Menjaga Pola Tidur Sebagai Mahasiswa Rantau
Hidup
sebagai mahasiswa rantau sering kali terasa seperti hidup dengan dua dunia
sekaligus. Ada dunia perkuliahan yang menuntut kedisiplinan, dan dunia
kemandirian yang menuntut kita mengurus segalanya sendiri. Di tengah kesibukan
itu, satu hal yang paling sering dikorbankan tanpa sadar adalah pola tidur.
Banyak mahasiswa rantau yang awalnya bertekad hidup sehat, tetapi perlahan
terseret rutinitas begadang karena tugas menumpuk, nongkrong terlalu lama, atau
sekadar menikmati waktu santai setelah seharian kuliah. Saat tubuh mulai terasa
lelah, barulah kita sadar bahwa menjaga pola tidur itu bukan sekadar kebiasaan,
tapi kebutuhan.
Menjaga
pola tidur sebagai mahasiswa rantau sebenarnya lebih menantang dibanding
tinggal di rumah. Tidak ada lagi orang tua yang mengingatkan, “Ayo tidur, besok
kuliah pagi!” Semua keputusan ada di tangan sendiri. Di awal-awal tinggal di
kos atau kontrakan, kebebasan ini terasa menyenangkan, tetapi cepat atau lambat
kamu akan menyadari bahwa kuliah pagi dengan tubuh yang kurang tidur itu
rasanya seperti berjalan sambil membawa batu satu karung. Konsentrasi
berkurang, materi sulit masuk, dan mood mudah turun. Di sinilah mahasiswa
rantau mulai belajar bahwa tidur bukanlah musuh produktivitas, melainkan
pondasi untuk menjalani hari dengan lebih waras.
Tantangan
menjaga pola tidur juga datang dari ritme hidup kampus yang dinamis. Ada hari
ketika tugas datang bersamaan, ada malam ketika teman-teman mengajak nongkrong
atau nonton drama sampai pagi, dan ada pula waktu ketika rindu rumah membuatmu
susah tidur. Sebagai rantau, kamu harus mencari cara untuk menyeimbangkan
kesibukan dengan kebutuhan istirahat. Beberapa mahasiswa mulai menentukan jam
tidur minimal yang harus mereka patuhi, misalnya tidak begadang lewat pukul 12
kecuali terpaksa. Ada pula yang membuat rutinitas sebelum tidur seperti
mendengarkan musik tenang, mematikan lampu, atau menjauhkan ponsel mulai pukul
21.00 agar tidak tergoda scrolling media sosial tanpa henti.
Selain
itu, menjaga pola tidur bukan hanya soal kapan kamu tidur, tetapi juga suasana
kamar yang kamu ciptakan. Mahasiswa rantau yang tinggal di kos kecil sering
menyulap ruang sempit menjadi tempat istirahat yang nyaman. Ada yang menata
lampu redup untuk memberi kesan hangat, ada yang memilih sprei favorit agar
tidur lebih nyenyak, dan ada yang menggunakan aromaterapi sederhana. Hal-hal
kecil ini ternyata berpengaruh besar terhadap kualitas tidur, terutama ketika
jauh dari rumah. Namun, menjaga pola tidur bukan berarti kamu harus menghindari
semua aktivitas sosial atau menolak ajakan teman. Mahasiswa rantau tetap perlu
keseimbangan antara tugas, teman, dan diri sendiri. Kuncinya adalah mengenali
batas kemampuan tubuh. Jika satu malam harus begadang karena tugas, usahakan
membayar kebutuhan tidur di hari berikutnya. Jika seminggu terlalu banyak
kegiatan, luangkan waktu satu hari untuk benar-benar beristirahat. Keseimbangan
inilah yang membuat kehidupan rantau tidak hanya berjalan, tetapi juga terasa
nyaman untuk dijalani.
Pada
akhirnya, menjaga pola tidur bagi mahasiswa rantau adalah bentuk tanggung jawab
terhadap diri sendiri. Di tengah keramaian kota baru, tugas yang terus datang,
dan rasa rindu kampung halaman, tidur menjadi ruang aman untuk memulihkan
tenaga dan pikiran. Sebab tubuh yang cukup istirahat membuat kamu lebih mudah
fokus, lebih stabil secara emosi, dan lebih siap menghadapi perjalanan
pendidikan yang panjang. Hidup menjadi mahasiswa rantau mengajarimu banyak hal,
salah satunya adalah bahwa merawat kesehatan diri sendiri. Salah satunya dengan
tidur yang cukup sebagai langkah sederhana yang punya dampak besar. Jadi,
sebelum kamu memilih begadang malam ini, tanyakan pada diri sendiri apakah
tubuhmu sanggup? Kalau tidak, lampu kamar yang redup dan bantal yang empuk
sudah menunggu untuk menyambutmu beristirahat.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri