Multi Role Model di Era Pendidikan Digital
Peran guru dalam sistem pendidikan Indonesia tidak lagi terbatas pada penyampai informasi. Hal ini sejalan dengan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menegaskan bahwa guru memiliki fungsi sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penilai, hingga evaluator. Regulasi tersebut diperkuat kembali dalam Permendikbud No. 22 Tahun 2020 tentang Standar Proses Pendidikan, di mana guru dituntut mampu merancang, melaksanakan, sekaligus mengevaluasi pembelajaran secara adaptif dan profesional. Ketentuan ini menunjukkan bahwa satu individu guru memikul banyak fungsi dalam satu peran, sehingga konsep Multi Role Model bukan sekadar istilah baru, melainkan refleksi nyata dari tuntutan kompetensi pendidik di era digital.
Dalam praktiknya, multi-peran guru semakin terlihat ketika teknologi mulai menyatu dengan proses belajar mengajar. Guru tidak hanya bertindak sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga menjadi desainer media digital, kreator materi interaktif, sekaligus pengelola kelas virtual. Platform belajar, aplikasi kuis, hingga artificial intelligence menghadirkan ruang baru yang memperluas cakupan peran guru. Jika sebelumnya pembelajaran cukup mengandalkan papan tulis dan buku cetak, kini guru dituntut mampu menciptakan konten pembelajaran visual, video, modul elektronik, hingga evaluasi berbasis sistem. Hal ini memberi peluang, namun juga tantangan: guru harus terus belajar agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi yang bergerak cepat.
Kenyataan ini terasa semakin relevan bagi mahasiswa PGSD, calon guru yang tengah dipersiapkan untuk memasuki dunia pendidikan perubahan cepat. Di masa studi, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah keterampilan praktek seperti microteaching, pembuatan media, penyusunan modul ajar, hingga konten pembelajaran digital. Aktivitas ini membentuk kesiapan awal untuk menjalani peran multiprofesi: sebagai komunikator yang mampu menjelaskan dengan jelas, sebagai perancang pembelajaran yang kreatif, dan sebagai inovator yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik bagi siswa SD. Proses belajar yang dahulunya hanya bersifat pedagogis kini mengarah pada penguasaan teknologi dan kemampuan adaptasi.
Pada akhirnya, guru masa depan adalah figur yang lentur dengan maksud mampu mengajar sambil terus belajar. Mereka bukan sekadar pengusung materi, melainkan arsitek yang membangun pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Multi Role Model bukan lagi sekadar pilihan, melainkan identitas baru seorang guru. Ketika dunia pendidikan bergerak menuju transformasi digital, guru yang siap berperan dalam banyak fungsi akan menjadi fondasi utama terciptanya pembelajaran yang bermakna, inklusif, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak hanya membutuhkan pengajar yang hadir di kelas, tetapi pendidik yang siap menavigasi perubahan.