Pembelajaran Berbasis Diskusi Asah Kemampuan Komunikasi
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Pembelajaran berbasis diskusi semakin banyak diterapkan sebagai pendekatan untuk mengasah kemampuan komunikasi peserta didik. Metode ini mendorong interaksi aktif melalui pertukaran gagasan dan pendapat secara terbuka. Suasana belajar menjadi lebih hidup karena setiap peserta memiliki kesempatan untuk berbicara. Diskusi juga membantu melatih keberanian dalam menyampaikan ide di hadapan orang lain. Kemampuan menyimak ikut berkembang karena peserta dituntut memahami sudut pandang berbeda. Proses ini memperkuat keterampilan berbicara yang terstruktur dan jelas. Selain itu, diskusi membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi. Hasilnya, pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pengembangan soft skill.
Penerapan pembelajaran berbasis diskusi memberi dampak positif terhadap kualitas interaksi di ruang belajar. Peserta menjadi lebih aktif bertanya dan menanggapi pendapat teman. Pola komunikasi dua arah membuat suasana belajar terasa lebih inklusif. Diskusi membantu mengurangi dominasi satu arah dalam penyampaian materi. Setiap pendapat dihargai sehingga tercipta rasa saling menghormati. Kemampuan berargumentasi juga terasah melalui proses menyampaikan alasan yang logis. Peserta belajar memilih kata yang tepat agar pesan dapat dipahami. Hal ini menjadikan komunikasi lebih efektif dan bermakna.
Melalui diskusi, peserta dilatih untuk berpikir kritis sebelum menyampaikan pendapat. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga mempertimbangkan isi dan tujuan komunikasi. Proses bertanya dan menjawab memperkaya pemahaman terhadap topik yang dibahas. Diskusi mendorong kolaborasi dalam memecahkan masalah secara bersama-sama. Perbedaan pendapat menjadi sarana belajar, bukan sumber konflik. Peserta belajar mengendalikan emosi saat berdiskusi. Sikap terbuka terhadap masukan menjadi bagian penting dari proses ini. Dengan demikian, komunikasi berkembang seiring dengan kedewasaan berpikir.
Pembelajaran berbasis diskusi juga mendukung pengembangan keterampilan sosial. Peserta belajar bekerja dalam kelompok dengan peran yang saling melengkapi. Kemampuan menyampaikan ide secara sopan dan jelas menjadi kebiasaan positif. Diskusi melatih kemampuan menyusun kalimat yang runtut dan mudah dipahami. Interaksi yang intensif memperkuat hubungan antarpeserta. Proses ini membangun empati melalui pemahaman sudut pandang orang lain. Komunikasi tidak hanya bersifat lisan, tetapi juga mencakup bahasa tubuh dan ekspresi. Semua unsur tersebut berkontribusi pada komunikasi yang lebih utuh.
Secara keseluruhan, pembelajaran
berbasis diskusi menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan pembelajaran yang aktif dan
partisipatif. Peserta tidak lagi menjadi penerima informasi pasif. Mereka
terlibat langsung dalam proses belajar yang dinamis. Diskusi membantu
menyiapkan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan menyampaikan ide dengan baik menjadi bekal penting di masa depan.
Proses belajar terasa lebih relevan dan bermakna. Dengan demikian, pembelajaran
berbasis diskusi layak terus dikembangkan sebagai bagian dari inovasi
pendidikan.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri
Suprapto