Pendidikan Multikultural: Mengajarkan Toleransi dan Pengertian Lintas Budaya
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Pendidikan
multikultural semakin mendapat perhatian karena mampu membangun sikap toleransi
di tengah keberagaman masyarakat. Pendekatan ini menekankan pentingnya
menghargai perbedaan budaya yang ada di sekitar peserta didik. Banyak
lingkungan belajar yang mulai menerapkan kegiatan kolaboratif untuk memperkuat
pemahaman lintas budaya. Program yang dirancang biasanya melibatkan eksplorasi
tradisi, bahasa, dan nilai-nilai lokal dari berbagai kelompok masyarakat.
Peserta didik diajak melihat keragaman sebagai kekayaan yang perlu dirawat
bersama. Metode ini juga memberi ruang bagi peserta didik untuk menyuarakan
identitas budayanya secara positif. Kesadaran untuk memahami latar belakang
orang lain menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran. Kehadiran pendidikan
multikultural diharapkan mampu mereduksi potensi konflik akibat perbedaan
pandangan dan nilai.
Dalam berbagai kegiatan pembelajaran, peserta didik dikenalkan pada konsep hidup berdampingan secara damai. Setiap aktivitas diarahkan untuk membantu mereka memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bekerja sama. Media belajar yang digunakan sering memuat cerita, simbol, dan pengalaman dari beragam budaya. Peserta didik dilatih untuk mendengarkan pendapat teman yang memiliki latar belakang berbeda. Guru biasanya menggunakan teknik diskusi terbuka agar setiap pandangan dapat diterima dan ditanggapi dengan bijak. Pendekatan ini membuat suasana belajar menjadi lebih inklusif dan nyaman bagi semua. Penanaman nilai toleransi dilakukan secara bertahap agar peserta didik mampu menginternalisasinya. Melalui langkah-langkah tersebut, proses pembelajaran menjadi sarana memperkuat pemahaman lintas budaya.
Penerapan pendidikan multikultural juga mendorong peserta didik untuk mengenali potensi dirinya. Mereka diberi kesempatan untuk mengenal keunikan budaya yang mereka miliki. Proses pengenalan diri ini membantu membangun rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap identitas masing-masing. Ketika identitas diri diterima, peserta didik lebih mudah menerima identitas orang lain. Pembelajaran kemudian berfokus pada dialog terbuka mengenai nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang berbeda. Dengan cara ini, peserta didik belajar menghargai keberagaman melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas seperti berbagi cerita dan pengalaman memungkinkan mereka memahami sudut pandang baru. Interaksi tersebut membuat peserta didik lebih terbuka dalam melihat dunia.
Pendidikan multikultural tidak hanya mengajarkan penghormatan terhadap budaya lain, tetapi juga keterampilan sosial yang dibutuhkan di masa depan. Peserta didik yang terbiasa berinteraksi dalam lingkungan beragam cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik. Mereka belajar menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa menimbulkan konflik. Keterampilan bekerja sama juga meningkat karena peserta didik sering terlibat dalam proyek kelompok yang berorientasi pada keberagaman. Kegiatan ini melatih sikap empati agar mereka mampu memahami kebutuhan orang lain. Pembelajaran berbasis keberagaman juga membentuk kemampuan berpikir kritis melalui analisis berbagai perspektif. Peserta didik belajar membuat keputusan secara objektif tanpa dipengaruhi stereotip. Dampak ini menjadikan pendidikan multikultural relevan bagi tuntutan kehidupan modern.
Keberhasilan
pendidikan multikultural bergantung pada konsistensi penerapannya dalam
kegiatan belajar. Setiap komponen pembelajaran perlu diarahkan untuk memperkuat
nilai toleransi. Lingkungan belajar yang mendukung keberagaman menjadi faktor
penting dalam keberhasilan proses ini. Peserta didik yang merasa diterima
cenderung lebih mudah membangun hubungan baik dengan teman sebaya. Kegiatan
refleksi rutin sering digunakan untuk mengevaluasi perkembangan sikap
menghargai perbedaan. Latihan-latihan tersebut membantu peserta didik memahami
bahwa keberagaman adalah bagian alami dari kehidupan. Semakin sering mereka
terlibat dalam kegiatan inklusif, semakin kuat nilai toleransi tertanam dalam
diri mereka. Dengan upaya berkelanjutan, pendidikan multikultural dapat menjadi
fondasi untuk membangun masyarakat yang harmonis.
Penulis:
Hanaksa Erviga Putri Suprapto