Pentingnya Keseimbangan Literasi Akademik dan Literasi Emosional
pgsd.fip.unesa.ac.id, Literasi akademik dan literasi emosional merupakan dua aspek penting yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Literasi akademik berkaitan dengan kemampuan memahami, mengolah, dan menerapkan pengetahuan secara logis dan sistematis. Sementara itu, literasi emosional berfokus pada kemampuan mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat. Keseimbangan antara keduanya membantu peserta didik berkembang secara utuh, baik secara intelektual maupun emosional. Pembelajaran yang hanya menekankan aspek akademik berpotensi mengabaikan kebutuhan emosional peserta didik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi motivasi dan kenyamanan dalam belajar. Oleh karena itu, keseimbangan literasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan proses belajar yang bermakna. Pemahaman ini semakin relevan dalam menghadapi dinamika pembelajaran modern.
Literasi akademik berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan analitis. Peserta didik dilatih untuk memahami informasi, memecahkan masalah, dan menarik kesimpulan secara logis. Namun, kemampuan tersebut akan lebih optimal apabila didukung oleh literasi emosional yang baik. Pengelolaan emosi membantu peserta didik menghadapi tantangan belajar tanpa tekanan berlebihan. Ketika emosi terkelola dengan baik, konsentrasi dan daya serap materi cenderung meningkat. Literasi emosional juga membantu peserta didik membangun rasa percaya diri dalam proses belajar. Keseimbangan ini memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan materi secara lebih positif. Dengan demikian, pencapaian akademik dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Keseimbangan literasi akademik dan emosional juga berpengaruh terhadap hubungan sosial dalam lingkungan belajar. Peserta didik yang memiliki literasi emosional baik cenderung lebih mampu bekerja sama dan menghargai perbedaan. Kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan orang lain membantu menciptakan interaksi yang sehat. Dalam konteks akademik, hal ini mendukung proses diskusi dan pertukaran ide yang konstruktif. Peserta didik tidak hanya fokus pada hasil belajar, tetapi juga pada proses yang dijalani bersama. Sikap empati dan saling menghargai memperkuat suasana belajar yang kondusif. Lingkungan yang aman secara emosional mendorong keberanian untuk berpendapat. Dengan demikian, pembelajaran menjadi ruang pengembangan pengetahuan sekaligus karakter.
Literasi emosional juga berperan dalam membantu peserta didik menghadapi tekanan akademik. Kemampuan mengenali stres dan mengelolanya secara tepat membantu menjaga kesehatan mental. Peserta didik yang seimbang secara emosional lebih mampu bangkit dari kegagalan belajar. Mereka cenderung melihat kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Sikap ini mendukung ketahanan belajar dalam jangka panjang. Ketika emosi tidak dikelola dengan baik, tekanan akademik dapat menghambat perkembangan potensi. Oleh sebab itu, integrasi literasi emosional menjadi pelengkap penting bagi penguatan literasi akademik. Keseimbangan ini membantu peserta didik tetap stabil dalam menghadapi tuntutan belajar.
Secara keseluruhan, keseimbangan literasi akademik dan literasi emosional menjadi kunci pembelajaran yang holistik. Kedua aspek tersebut saling mendukung dalam membentuk individu yang cerdas dan berkarakter. Literasi akademik memberikan dasar pengetahuan dan keterampilan berpikir. Literasi emosional membantu mengelola perasaan dan membangun hubungan yang sehat. Ketika keduanya berjalan seiring, proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna. Peserta didik tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga secara emosional dan sosial. Pendekatan seimbang ini relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Dengan demikian, penguatan kedua literasi tersebut menjadi kebutuhan penting dalam pembelajaran berkelanjutan.
Penulis : Nurita
Gambar : Google