Peran Guru SD dalam Mencegah Learning Loss Pasca Pandemi
Pandemi COVID-19 meninggalkan dampak besar pada dunia pendidikan, terutama pada jenjang sekolah dasar. Selama hampir dua tahun pembelajaran jarak jauh, banyak siswa kehilangan kesempatan belajar optimal. Learning loss—penurunan kemampuan akademik dan non-akademik—menjadi tantangan serius yang harus dipulihkan. Dalam proses pemulihan ini, guru SD memiliki peran yang sangat penting karena mereka yang paling dekat dengan fase perkembangan fundamental anak.
Learning loss terjadi dalam berbagai bentuk. Sebagian anak mengalami penurunan kemampuan literasi dan numerasi, yang merupakan keterampilan dasar. Ada pula siswa yang kehilangan kebiasaan belajar, disiplin, atau kemampuan bersosialisasi. Proses adaptasi kembali ke sekolah tidak mudah; sebagian anak kesulitan berfokus saat belajar, mudah cemas, atau mengalami ketertinggalan akademik yang signifikan. Di sinilah guru SD bekerja di garis depan untuk memetakan kebutuhan siswa dan memberikan intervensi yang tepat.
Langkah pertama guru SD adalah melakukan asesmen diagnostik. Guru tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga memetakan kesiapan emosional dan sosial anak. Dengan mengetahui posisi awal, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai. Proses remedial menjadi kunci penting dalam memulihkan kemampuan dasar yang hilang. Guru memberikan pendampingan tambahan, tugas yang disesuaikan, serta aktivitas belajar yang memperkuat kembali fondasi literasi-numerasi anak.
Selain pemulihan akademik, guru SD juga memainkan peran besar dalam memulihkan kembali kebiasaan belajar. Melalui rutinitas kelas yang konsisten—seperti membaca pagi, diskusi kelompok, hingga refleksi harian—guru membantu anak membangun kembali kedisiplinan dan tanggung jawab. Kegiatan ini memperbaiki pola belajar yang sempat terputus selama masa pembelajaran di rumah.
Pemulihan kemampuan sosial-emosional tidak kalah penting. Guru SD membangun hubungan yang hangat dan aman agar siswa merasa nyaman kembali belajar di sekolah. Aktivitas bermain, kolaborasi kelompok, dan pembelajaran berbasis projek memberi kesempatan bagi anak untuk melatih kembali kemampuan komunikasi, kerjasama, dan empati. Guru juga membantu siswa mengelola kecemasan dan ketidakpastian yang mungkin masih tersisa akibat pandemi.
Tidak hanya itu, guru SD juga harus menjalin kerja sama dengan orang tua. Komunikasi yang baik memastikan bahwa dukungan belajar tidak berhenti di sekolah. Guru memberikan arahan tentang aktivitas yang dapat dilakukan orang tua di rumah, seperti membaca bersama atau membimbing tugas sederhana. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat pemulihan anak.
Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi learning loss sangat bergantung pada komitmen guru SD dalam melakukan pendampingan yang berkelanjutan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memulihkan semangat belajar dan kepercayaan diri anak. Melalui kerja keras dan dedikasi mereka, anak-anak Indonesia memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan kembali berada di jalur perkembangan optimal.