Peran Guru sebagai Fasilitator di Era Pembelajaran Berbasis Proyek
Di era Kurikulum Merdeka, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) menjadi pendekatan utama untuk mengembangkan keterampilan abad 21 siswa, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Berbeda dari metode konvensional yang guru-sentris, PBL menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di sini, guru tidak lagi berperan sebagai pengajar tradisional, melainkan fasilitator yang memandu proses belajar secara mandiri. Peran ini krusial untuk SD, di mana anak-anak usia dini perlu dibina agar mampu mengeksplorasi lingkungan sambil membangun literasi lingkungan dan matematika dasar.
Apa Itu Fasilitator dalam PBL?
Fasilitator adalah guru yang menciptakan lingkungan belajar dinamis, di mana siswa aktif menyelesaikan masalah melalui proyek. Menurut John Dewey, pelopor PBL, pembelajaran efektif terjadi saat siswa "melakukan" dan merefleksikan pengalaman. Di konteks Indonesia, Permendikbud No. 37 Tahun 2018 tentang PBL menekankan guru sebagai pendamping yang:
Merancang proyek autentik, seperti "Membuat taman sekolah berkelanjutan" untuk literasi lingkungan.
Memberi kebebasan siswa dalam perencanaan, eksekusi, dan evaluasi.
Mengintegrasikan mata pelajaran lintas kurikulum, misalnya matematika (pengukuran lahan) dengan IPA (siklus air).
Peran ini bergeser dari "pemberi pengetahuan" menjadi "pemicu pertanyaan" dan "pembina refleksi".
Tugas Utama Guru Fasilitator
Guru fasilitator menjalankan tugas strategis untuk memaksimalkan PBL. Berikut poin-poin kunci:
Merancang Proyek Relevan: Pilih tema dekat dengan siswa SD, seperti "Proyek Daur Ulang Sampah Sekolah" yang menggabungkan literasi lingkungan dan seni budaya Jawa (misalnya, aksara Jawa untuk label daur ulang).
Memfasilitasi Kolaborasi: Bentuk kelompok heterogen, ajarkan keterampilan sosial, dan gunakan tools digital seperti Canva untuk presentasi proyek.
Memberi Bimbingan Individual: Observasi proses, tanyakan pertanyaan terbuka seperti "Apa hambatanmu dan solusinya?", serta berikan umpan balik formatif.
Mengevaluasi Holistik: Gunakan rubrik yang menilai proses (80%) dan produk (20%), termasuk portofolio dan refleksi diri.
Integrasi Teknologi: Manfaatkan YouTube untuk riset atau WhatsApp grup untuk diskusi tim.
Contoh di SD: Siswa kelas 4 membuat model miniatur bendungan untuk memahami matematika geometri dan isu banjir, dengan guru memantau tanpa mendikte jawaban.
Guru sebagai fasilitator di era PBL bukan hanya mengajar, tapi membentuk generasi mandiri dan inovatif. Di SD, pendekatan ini mendukung Profil Pelajar Pancasila, khususnya bernalar kritis dan gotong royong. Dengan komitmen, guru dapat mentransformasi kelas menjadi laboratorium kehidupan nyata.
Penulis : Nuni Maryana Andini