Peran Kakak Tingkat dalam Menumbuhkan Semangat Mahasiswa Baru
Memasuki dunia perkuliahan bukan hal yang mudah, terutama bagi mahasiswa baru. Lingkungan yang benar-benar berbeda, sistem belajar yang berubah, serta tuntutan kemandirian sering kali membuat maba merasa canggung dan kebingungan. Di sinilah peran kakak tingkat menjadi sangat berarti.
Awal mula mengenal kakak tingkat biasanya terjadi saat ospek fakultas. Dari yang awalnya hanya sebatas panitia dan peserta, perlahan hubungan itu berkembang menjadi lebih akrab. Tidak sedikit mahasiswa baru yang akhirnya menjadikan kakak tingkat sebagai tempat bertanya ketika menghadapi kesulitan di awal perkuliahan, mulai dari urusan akademik, adaptasi lingkungan, hingga sekadar mencari saran.
Dalam pengalaman ini, kakak tingkat hadir bukan hanya sebagai senior, tetapi sebagai teman yang mau mendengar dan membantu. Dengan sabar, ia menjelaskan materi kuliah, membagikan pengalaman belajar, serta memberi gambaran bagaimana menghadapi dosen dan ritme perkuliahan. Sikap seperti ini tentu sangat membantu mahasiswa baru yang masih berusaha menyesuaikan diri.
Bimbingan tersebut perlahan menumbuhkan semangat belajar. Mahasiswa baru menjadi lebih termotivasi untuk memahami materi yang diajarkan dosen, berusaha belajar lebih giat, dan tidak ingin tertinggal. Ada dorongan untuk bisa mengimbangi kakak tingkat yang dianggap lebih pintar dan berpengalaman. Dari sinilah semangat akademik tumbuh, bukan karena paksaan, tetapi karena dukungan dan teladan.
Menariknya, dari kedekatan itu juga bisa tumbuh hubungan yang lebih personal. Dari sering bertanya, belajar bersama, hingga saling menyemangati, keduanya semakin dekat. Tidak jarang, hubungan tersebut berkembang menjadi kisah cinta kampus yang bermula dari rasa nyaman dan saling mendukung, sebuah “cinlok” yang datang tanpa direncanakan.
Namun, terlepas dari kisah manisnya, pengalaman ini menunjukkan satu hal penting: kakak tingkat memiliki peran besar dalam membantu mahasiswa baru bertumbuh. Dukungan kecil, perhatian sederhana, dan kesediaan untuk membantu bisa memberi dampak besar bagi semangat dan kepercayaan diri maba.
Semoga pengalaman ini bisa menjadi pengingat bahwa di dunia perkuliahan, saling membantu adalah hal yang sangat berarti. Bagi kakak tingkat, menjadi sosok yang suportif dapat memberi pengaruh positif bagi adik tingkat. Sementara bagi mahasiswa baru, jangan ragu untuk bertanya dan belajar, karena dukungan yang tepat bisa membuat perjalanan kuliah terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Penulis: Qonita Adzkiya’