Perubahan Kecil yang Mengubah Cara Bertindak
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Rasa malu sering kali menjadi tembok terbesar yang menahan banyak
anak muda untuk bergerak. Padahal mereka sebenarnya mampu, punya potensi, dan
ingin mencoba hal baru atau mengambil kesempatan lain. Sayangnya, langkah itu
sering terhenti hanya karena takut terlihat salah, takut dinilai aneh, atau
takut hasilnya tidak sesempurna orang lain. Kita terkadang lupa bahwa semua hal
yang sekarang kita kuasai pun dulu dimulai dari ketidaktahuan dan
ketidakbisaan. Tidak ada kemampuan yang muncul tanpa proses, dan tidak ada
proses yang berjalan tanpa keberanian untuk memulai.
Urat malu yang
terlalu kencang justru membuat seseorang membatasi ruang geraknya sendiri. Kita
lebih sibuk membayangkan penilaian orang lain daripada fokus pada manfaat yang
bisa didapat. Padahal, kalau dipikir baik-baik, apa yang memalukan dari
melakukan sesuatu yang tidak merugikan siapa pun? Belajar, mencoba, bertanya, atau
memulai hal baru adalah bagian alami dari perkembangan diri. Semua itu justru
perlu dilakukan terus-menerus supaya kita semakin lancar, semakin paham, dan
semakin percaya diri. Sama seperti otot, kemampuan pun terbentuk dari latihan
berulang, bukan hanya dari keberanian menontonnya dari jauh.
Begitu kita berani
mengambil langkah pertama, proses itu mulai bergerak. Sedikit demi sedikit,
kita akan lebih terbiasa, lebih mengerti, dan lebih mahir. Keraguan akan
perlahan tergeser oleh pengalaman. Orang-orang hebat yang kita lihat hari ini
pun pernah berada di posisi gugup dan serba ragu. Bedanya, mereka tidak
berhenti di situ. Mereka tetap melangkah meskipun tidak yakin, tetap mencoba
meskipun takut, dan tetap belajar meskipun belum sempurna.
Karena pada akhirnya,
yang terpenting bukan langkah pertama yang sempurna, tetapi keberanian untuk
mengambil langkah itu. Dan untuk menegaskan hal tersebut, ada satu kutipan yang
sangat cocok untuk menutup pesan ini “Anak muda, urat malumu jangan terlalu
kenceng. Kenapa malu melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain?” —
Najwa Shihab
Penulis: Elis