Posisi Duduk dan Dinamika Belajar dalam Kelas Inklusif
pgsd.fip.unesa.ac.id – Posisi duduk siswa di kelas sering kali dianggap sepele, padahal ia memegang peranan krusial dalam membentuk dinamika belajar, terutama di kelas inklusif. Bagi siswa pada umumnya, penataan tempat duduk dapat memengaruhi fokus, interaksi dengan teman, hingga partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Namun, efeknya jauh lebih signifikan lagi bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), seperti tunagrahita. Pemahaman mengenai karakteristik dan kebutuhan unik mereka menjadi kunci dalam menentukan penempatan yang optimal. Duduk terlalu jauh dari guru atau terlalu dekat dengan sumber gangguan, misalnya, dapat menghambat konsentrasi mereka yang memang memiliki rentang atensi lebih pendek dan membutuhkan dukungan visual serta auditori yang lebih intensif dari pendidik.
Dalam konteks pendidikan inklusif, penempatan duduk strategis bagi siswa tunagrahita sangat disarankan untuk berada di area yang mudah dijangkau oleh guru dan dapat terpantau dengan baik. Umumnya, mereka akan ditempatkan di barisan depan atau di area tengah yang lebih dekat dengan pusat interaksi kelas. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan distraksi dari lingkungan sekitar, memudahkan guru dalam memberikan instruksi langsung, serta memungkinkan pemberian bantuan individual secara cepat dan diskret ketika diperlukan. Selain itu, menempatkan mereka di samping teman sebaya yang memiliki kepribadian suportif dan adaptif juga sangat penting. Teman sebaya ini dapat berfungsi sebagai peer tutor atau model perilaku positif, yang secara tidak langsung membantu siswa tunagrahita dalam meniru perilaku belajar yang baik dan meningkatkan interaksi sosial yang sehat.
Lebih dari sekadar memudahkan pengawasan, penataan posisi duduk yang inklusif juga berperan dalam membangun rasa aman dan nyaman bagi siswa tunagrahita. Lingkungan fisik yang terasa mendukung akan meningkatkan rasa percaya diri mereka untuk berpartisipasi dan mengurangi potensi perilaku menarik diri atau tantrum akibat frustrasi. Guru yang responsif akan selalu mengevaluasi penataan tempat duduk secara berkala, menyesuaikannya dengan kebutuhan individu siswa dan dinamika kelas. Dengan demikian, posisi duduk bukan hanya sekadar urusan logistik, melainkan bagian integral dari strategi pedagogis yang memastikan setiap siswa, termasuk ABK, mendapatkan kesempatan terbaik untuk belajar dan berkembang secara optimal di lingkungan kelas inklusif yang ramah dan mendukung.
Penulis: Elis