Prestasi Banyak, Kompetensi Minim: Refleksi Sistem Pendidikan Kita
Kata kunci: kompetensi peserta didik
pgsd.fip.unesa.ac.id – Berbagai prestasi akademik yang diraih oleh peserta didik sering menjadi kebanggaan dalam dunia pendidikan. Nilai tinggi, deretan piala, dan peringkat sekolah kerap dipamerkan sebagai bukti keberhasilan sistem pendidikan. Namun, di balik banyaknya prestasi tersebut, muncul refleksi kritis ketika kompetensi nyata peserta didik belum sepenuhnya terbentuk secara optimal.
Fenomena prestasi tanpa kompetensi sering terlihat ketika siswa mampu menjawab soal ujian, tetapi kesulitan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara hasil akademik dan kemampuan praktis. Pembelajaran yang berorientasi pada hasil akhir cenderung mengabaikan proses pembentukan keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
Sistem pendidikan yang terlalu menekankan pencapaian prestasi juga dapat mendorong praktik pembelajaran yang kurang sehat. Siswa diarahkan untuk menghafal strategi menjawab soal, bukan memahami konsep. Guru pun berada dalam tekanan untuk menghasilkan prestasi yang dapat diukur secara cepat, sehingga inovasi pembelajaran bermakna menjadi terbatas.
Kompetensi peserta didik sejatinya mencakup berbagai aspek, mulai dari pengetahuan, keterampilan, hingga sikap. Dunia kerja dan kehidupan sosial membutuhkan individu yang mampu beradaptasi, bekerja sama, dan berpikir kritis. Ketika pendidikan hanya menghasilkan prestasi akademik tanpa kompetensi tersebut, lulusan berisiko mengalami kesulitan menghadapi tantangan nyata.
Refleksi terhadap kondisi ini menuntut perubahan pendekatan dalam pembelajaran. Sekolah perlu menempatkan pengembangan kompetensi sebagai tujuan utama, sementara prestasi menjadi hasil dari proses yang baik. Pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, dan kolaborasi dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kompetensi yang relevan.
Selain itu, evaluasi pembelajaran perlu diarahkan pada kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan, bukan sekadar mengingat informasi. Penilaian autentik yang menilai proses dan produk pembelajaran dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kompetensi peserta didik. Dengan demikian, prestasi yang diraih benar-benar mencerminkan kualitas kemampuan siswa.
Secara keseluruhan, banyaknya prestasi belum tentu menjamin kuatnya kompetensi. Sistem pendidikan perlu melakukan refleksi agar tidak terjebak pada simbol keberhasilan semu. Dengan menyeimbangkan antara prestasi dan kompetensi, pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga siap menghadapi kehidupan dan masa depan.