Program Mentoring dan Dukungan Psikososial Turunkan Angka Putus Sekolah
Upaya menekan angka putus sekolah menunjukkan hasil positif melalui penerapan program mentoring dan dukungan psikososial. Program ini difokuskan pada pendampingan siswa yang mengalami risiko tinggi untuk meninggalkan bangku pendidikan. Pendekatannya tidak hanya akademik, tetapi juga emosional dan sosial. Mentor berperan membantu siswa mengenali potensi diri dan mengatasi hambatan belajar. Selain itu, sesi konseling rutin membantu siswa mengelola tekanan dan membangun rasa percaya diri. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan kehadiran di sekolah. Data internal mencatat penurunan signifikan dalam jumlah siswa yang berhenti di tengah tahun ajaran. Hal ini menjadi bukti bahwa dukungan psikososial mampu menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan inklusif.
Pelaksanaan program dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur pendukung dari lingkungan sekolah. Proses mentoring disusun berdasarkan kebutuhan individu setiap peserta. Setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mentor yang memahami dinamika perkembangan remaja. Strategi ini terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan aman secara emosional. Selain aspek konseling, kegiatan kelompok juga menjadi bagian penting dalam memperkuat rasa kebersamaan antar siswa. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, mereka belajar untuk saling mendukung dalam menghadapi tantangan belajar. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik tidak lepas dari kesejahteraan mental siswa. Semakin banyak peserta yang merasa termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.
Keberhasilan program mentoring ini berawal dari pemetaan masalah yang dihadapi siswa di berbagai jenjang pendidikan. Banyak dari mereka menghadapi tekanan sosial, kesulitan ekonomi, dan kurangnya dukungan lingkungan belajar di rumah. Melalui asesmen awal, tim pelaksana dapat menentukan jenis dukungan yang paling dibutuhkan. Pendekatan personal inilah yang membedakan program ini dari upaya konvensional sebelumnya. Dengan memperhatikan latar belakang siswa, mentor mampu membangun hubungan yang empatik dan bermakna. Hal ini mendorong terciptanya rasa aman bagi siswa untuk terbuka terhadap masalah yang mereka hadapi. Komunikasi dua arah menjadi inti dalam proses pemulihan semangat belajar. Program ini membuktikan bahwa pendidikan yang berorientasi pada manusia dapat mengubah masa depan peserta didik.
Hasil dari program tersebut juga berdampak pada peningkatan partisipasi keluarga dalam pendidikan anak. Orang tua mulai menyadari pentingnya keterlibatan aktif dalam mendukung keberlanjutan belajar. Sesi pelatihan dan diskusi keluarga menjadi sarana memperkuat komunikasi antara rumah dan sekolah. Dengan demikian, lingkungan belajar yang harmonis dapat terbentuk di dua arah: di rumah dan di kelas. Pendekatan holistik ini membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan anak. Selain itu, masyarakat sekitar turut mendukung melalui kegiatan sosial yang memperkuat semangat kebersamaan. Keterlibatan ini menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga keberlangsungan program. Keberhasilan tersebut membuka peluang replikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan kebutuhan lokal.
Secara keseluruhan, program mentoring dan dukungan psikososial menjadi inovasi yang berdampak nyata bagi dunia pendidikan. Penurunan angka putus sekolah menunjukkan bahwa perhatian terhadap aspek non-akademik sama pentingnya dengan kualitas pengajaran. Upaya ini memberikan harapan baru bagi generasi muda untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa hambatan emosional atau sosial. Model pendampingan ini dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya untuk mengadopsi pendekatan serupa. Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antara guru, siswa, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan komitmen bersama, pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan bukan lagi sekadar cita-cita. Program ini menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang. Semangat itu kini menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih manusiawi.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google