Program Mentoring Senior-Junior Ciptakan Lingkungan Belajar Positif
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Program
mentoring senior, junior kini menjadi sorotan positif karena dinilai mampu
menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif. Kegiatan ini mempertemukan
peserta berpengalaman dengan peserta yang masih baru untuk saling berbagi
strategi belajar. Banyak peserta merasa lebih percaya diri karena mendapat
pendampingan langsung dari rekan sebaya. Interaksi yang terjalin membantu
mereka memahami tugas dan tantangan akademik dengan lebih ringan. Pendekatan
ini juga membuat proses adaptasi menjadi lebih cepat dan efektif. Suasana belajar
terasa lebih nyaman karena komunikasi berlangsung santai namun tetap terarah.
Program ini dinilai memberikan dampak signifikan pada peningkatan motivasi
belajar. Keberhasilan tersebut membuat kegiatan mentoring semakin diminati.
Dalam pelaksanaannya,
sesi mentoring dirancang agar peserta dapat berdiskusi terbuka tanpa rasa
sungkan. Peserta senior berbagi pengalaman mengenai cara mengatur waktu belajar
secara efisien. Peserta junior diberi kesempatan menyampaikan hambatan yang mereka
hadapi dalam aktivitas akademik. Setiap diskusi diarahkan pada solusi praktis
yang mudah diterapkan sehari-hari. Pendekatan dua arah membuat suasana belajar
menjadi lebih dinamis dan produktif. Peserta juga dilatih untuk saling
mendengarkan tanpa menghakimi. Hal ini mendorong terciptanya rasa saling
menghargai di antara anggota kelompok. Kegiatan ini sekaligus memperkuat
keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar.
Antusiasme peserta
terlihat dari meningkatnya jumlah yang mendaftar pada setiap sesi. Banyak
peserta mengaku memperoleh pemahaman baru setelah mengikuti program tersebut.
Mereka merasa mendapat dukungan emosional yang membantu mengurangi tekanan
akademik. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan
keterampilan berpikir kritis. Pelaksanaan mentoring dilakukan secara bertahap
agar setiap peserta mampu menyesuaikan diri. Materi yang dibahas disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Peningkatan kepercayaan diri peserta
menjadi salah satu capaian yang paling terlihat. Dampak positif ini mendorong
pelaksanaan program agar terus berkelanjutan.
Selain menguatkan
hubungan antaranggota, program mentoring juga menumbuhkan budaya kolaboratif.
Peserta didorong untuk bekerja dalam kelompok kecil guna membahas strategi
penyelesaian tugas. Setiap kelompok diberi kesempatan mempresentasikan hasil
diskusinya dengan cara sederhana dan jelas. Aktivitas tersebut melatih
kemampuan berbicara di depan orang lain tanpa tekanan. Lingkungan belajar yang
kondusif membuat peserta lebih berani mengemukakan pendapat. Keterbukaan ini
membantu mereka memahami sudut pandang berbeda dari rekan lainnya. Kebiasaan
berdiskusi dianggap mampu meningkatkan kemampuan analisis. Budaya saling
mendukung pun semakin kuat terbentuk.
Keberhasilan program
mentoring terlihat dari meningkatnya kedisiplinan dan motivasi belajar peserta.
Mereka menjadi lebih teratur dalam menyelesaikan tugas karena adanya dorongan
dari rekan sebaya. Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka merasa tidak lagi
belajar sendirian. Suasana positif yang tercipta membantu mengurangi kecemasan
dalam menghadapi materi baru. Pendekatan mentoring dianggap efektif karena
memadukan pengalaman dan kebutuhan nyata peserta. Hubungan baik yang terjalin
membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Lingkungan yang suportif ini
diharapkan bisa terus dipertahankan. Program ini pun semakin dikenal sebagai
upaya menciptakan pengalaman belajar yang lebih positif dan memberdayakan.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri Suprapto