Saat Pendapat Hanya Sebatas “Iya, Ngikut Aja”
Ada banyak situasi ketika seseorang diminta pendapat dalam kelompok lalu jawabannya hanya singkat, “aku ikut aja”, “ya terserah”, atau “gimana yang lain aja”. Sekilas itu terdengar santai dan fleksibel. Namun sebenarnya, kebiasaan seperti ini menyimpan cerita yang lebih dalam. Tidak semua orang yang berkata demikian benar-benar tidak punya pendapat. Kadang ada alasan lain yang membuat mereka memilih diam.
Beberapa orang takut salah. Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dalam lingkungan yang menilai kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan. Akibatnya, saat diminta berpendapat, sebagian orang memilih aman daripada berisiko dibantah atau dikritik. Diam terasa lebih nyaman daripada salah dan terlihat bodoh di depan orang lain.
Ada juga orang yang merasa pendapatnya tidak penting. Mungkin mereka pernah mengalaminya sebelumnya, seperti saat berbicara malah tidak didengar, dipotong, atau dianggap tidak serius. Setelah beberapa kali mengalami hal seperti itu, mereka mulai percaya bahwa lebih baik diam daripada mencoba lagi.
Beberapa orang sebenarnya punya banyak ide, tetapi butuh waktu untuk memikirkan jawabannya. Tidak semua orang bisa langsung bicara dengan cepat. Ada tipe orang yang perlu merenung sebelum menyampaikan pendapat. Dalam diskusi yang cepat atau didominasi orang-orang yang suka berbicara, mereka akhirnya memilih diam karena merasa tidak ada ruang untuk pendapat mereka.
Budaya juga punya pengaruh besar. Di banyak lingkungan, kita diajarkan untuk menjaga suasana tetap damai, tidak berbantah, dan menghormati orang lain dengan tidak banyak berbeda pendapat. Akhirnya, perbedaan pandangan dianggap kurang sopan. Sikap seperti ini membuat sebagian orang memilih mengikuti keputusan kelompok agar tidak dianggap mengganggu keharmonisan.
Kebiasaan “setuju saja” sebenarnya tidak selalu buruk, tetapi jika terjadi terus-menerus, ada dampak yang perlu dipikirkan. Keputusan kelompok mungkin jadi kurang adil karena hanya suara orang yang berani bicara yang dipertimbangkan. Ide yang sebenarnya bagus mungkin tidak pernah muncul karena seseorang memilih diam. Lama-lama, orang yang terbiasa mengikuti justru kehilangan rasa percaya diri dan merasa suaranya tidak berarti apa-apa.
Mengubah kebiasaan ini bisa dimulai dari langkah kecil. Kita bisa mencoba memberi pendapat sederhana dulu, seperti “menurutku ini bisa dicoba” atau “aku punya ide, boleh aku sampaikan?”. Tidak perlu langsung panjang atau rumit. Yang penting, mulai berani bicara.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho