SAAT TRADISI BERTEMU MODERNISASI: PERJUANGAN MERAWAT BUDAYA DAERAH
Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, modernisasi budaya menjadi hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda kini lebih memilih hal-hal berbau modern dibandingkan tradisi yang sudah lama hidup di masyarakat. Fenomena seperti ini terlihat dari pilihan hiburan, gaya berpakaian, sampai penggunaan bahasa yang mulai beralih pada istilah-istilah kekinian. Perubahan semacam ini sebenarnya tidak selalu buruk, tetapi memang membawa dampak yang cukup terasa terhadap upaya pelestarian budaya daerah. Ketika tradisi mulai tersingkir, identitas budaya yang dulu kuat pun perlahan memudar. Misalnya, dalam beberapa keluarga, penggunaan bahasa daerah dalam percakapan harian semakin jarang dilakukan karena dianggap kurang relevan oleh generasi muda. Padahal, bahasa daerah merupakan identitas penting yang melekat pada suatu budaya. Jika hal ini terus dibiarkan, pelestarian budaya akan menghadapi tantangan yang semakin berat seiring berkembangnya modernisasi.
Salah satu cara untuk menjaga budaya daerah tetap hidup adalah melalui penanaman nilai sejak dini di lingkungan keluarga. Di rumah, orang tua dapat membiasakan percakapan menggunakan bahasa daerah walaupun hanya pada momen tertentu, agar anak tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Selain itu, memperkenalkan cerita rakyat atau dongeng tradisional dari daerah setempat juga dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna. Anak yang terbiasa mendengar cerita rakyat akan lebih mudah mengingat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini bisa dilakukan saat waktu luang, misalnya menjelang tidur atau saat berkumpul keluarga. Dengan cara ini, anak bisa tumbuh dengan rasa kedekatan terhadap budaya daerahnya sendiri. Selain itu, liburan keluarga yang diarahkan ke tempat wisata budaya seperti museum daerah, pertunjukan wayang, atau pusat kuliner tradisional dapat semakin memperkaya pengalaman anak. Di momen seperti itu, anak bukan hanya melihat tempat wisata, tetapi memahami bahwa setiap daerah memiliki nilai sejarah dan keunikan budayanya masing-masing.
Selain keluarga, masyarakat sekitar juga memegang peran besar dalam menjaga tradisi agar tetap dikenal oleh generasi muda. Banyak kegiatan masyarakat seperti festival budaya, pasar rakyat, hingga pertunjukan seni daerah yang dapat menjadi sarana mengenalkan tradisi secara langsung. Lingkungan masyarakat yang aktif mengadakan kegiatan budaya akan mendorong anak untuk terbiasa melihat, mendengar, dan merasakan tradisi dalam kehidupan nyata. Misalnya, ketika ada acara desa yang menampilkan wayang, jaranan, atau musik tradisional, anak bisa belajar bahwa budaya bukan sekadar cerita, tetapi sesuatu yang hidup dan ada di sekitar mereka. Peran masyarakat dalam melestarikan budaya juga terlihat dari kebiasaan gotong royong, upacara adat, atau tradisi lokal yang masih dijalankan bersama-sama. Ketika masyarakat kompak menjaga budaya daerahnya, anak-anak pun akan lebih mudah memahami bahwa tradisi tersebut memang bagian penting dari kehidupan mereka. Perpaduan peran keluarga dan masyarakat dalam kegiatan seperti ini akan membuat anak lebih terbuka untuk mengenal budaya mereka sendiri. Jika lingkungan sekitar ikut berperan aktif, pelestarian budaya akan terasa lebih menyenangkan bagi anak.
Di lingkungan sekolah, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan yang memang sudah umum diterapkan dalam dunia pendidikan. Contohnya adalah perayaan Hari Batik Nasional, kegiatan mengenakan pakaian daerah, atau kebiasaan menggunakan blangkon dan kebaya saat pembelajaran Bahasa Jawa. Ekstrakurikuler tari tradisional juga menjadi bagian penting yang membantu siswa mengenal seni gerak khas daerah. Selain itu, guru dapat memanfaatkan media pembelajaran seperti video dokumenter budaya atau permainan tradisional untuk membuat proses belajar lebih menarik. Sekolah juga dapat bekerja sama dengan sanggar seni setempat agar siswa bisa belajar langsung dari praktisi budaya. Sekolah juga dapat mengadakan perlombaan sederhana bertema budaya yang membantu mereka merasakan bahwa budaya daerah itu menyenangkan dan mudah dikenali dalam kegiatan sehari-hari. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, siswa dapat memahami bahwa budaya adalah bagian dari identitas yang patut dihargai dan dijaga. Kombinasi dari keluarga, masyarakat, dan sekolah menjadikan proses pelestarian budaya semakin kuat dan saling melengkapi.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memiliki peran besar dalam menjaga agar budaya daerah tetap hidup di tengah modernisasi yang semakin cepat berkembang. Program-program pemerintah seperti festival budaya nasional, revitalisasi cagar budaya, serta dukungan terhadap sanggar-sanggar seni daerah memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi mereka. Pemerintah juga mendukung sekolah melalui kebijakan muatan lokal agar siswa dapat belajar budaya sesuai daerah masing-masing. Selain itu, pelatihan bagi guru serta penyediaan media pembelajaran berbasis budaya membantu proses pembelajaran menjadi lebih variatif. Dukungan pemerintah ini membuat sekolah dan masyarakat lebih mudah menyelenggarakan kegiatan budaya tanpa terhambat keterbatasan sarana. Pemerintah juga terus memperhatikan komunitas budaya lokal untuk memastikan tradisi tetap berkembang dan memiliki ruang tampil yang berkelanjutan. Dengan adanya peran pemerintah sebagai fasilitator, tradisi daerah bukan hanya bertahan, tetapi juga tetap relevan bagi generasi muda. Dukungan berkelanjutan ini menjadikan pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada keluarga dan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nasional untuk menjaga jati diri bangsa di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari