Sains di Balik Learning Loss: Mengapa Sulit Fokus Setelah Pandemi?
pgsd.fip.unesa.ac.id Fenomena learning loss menjadi perhatian besar di dunia pendidikan setelah masa pandemi. Banyak pelajar dan mahasiswa merasa kesulitan untuk kembali fokus belajar seperti sebelum pembelajaran jarak jauh. Gangguan konsentrasi, penurunan motivasi, dan kesulitan memahami materi menjadi masalah yang sering ditemui pasca pandemi. Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali pada rutinitas normal. Pembelajaran daring dalam waktu panjang menyebabkan perubahan pola kerja kognitif. Perubahan tersebut berdampak pada kemampuan memproses informasi secara optimal. Situasi ini memunculkan tantangan bagi proses pemulihan belajar. Kondisi tersebut menuntut strategi khusus agar kemampuan belajar dapat kembali meningkat.
Selama pandemi, waktu layar
meningkat drastis sehingga mempengaruhi sistem perhatian dalam otak. Aktivitas
yang bersifat cepat dan instan membuat fokus jangka panjang semakin sulit
dipertahankan. Konsumsi konten visual yang berlebihan meningkatkan ketergantungan
pada stimulasi cepat. Akibatnya, proses membaca dan berpikir mendalam terasa
lebih berat daripada sebelumnya. Para pelajar terbiasa dengan pola multitasking
yang membuat konsentrasi mudah terpecah. Daya tahan belajar menurun dan
mempengaruhi kualitas hasil akademik. Perbedaan ritme belajar antara masa
pandemi dan masa pascapandemi semakin memperbesar kesenjangan kemampuan.
Adaptasi kembali membutuhkan waktu dan latihan bertahap.
Learning loss juga memengaruhi
perkembangan sosial dan emosional. Ketika belajar dari rumah, interaksi sosial
berkurang secara signifikan. Kurangnya komunikasi langsung menyebabkan
penurunan rasa percaya diri dalam aktivitas akademik. Banyak pelajar merasa
cemas dan takut gagal ketika kembali ke lingkungan belajar tatap muka. Kondisi
emosional yang tidak stabil berpengaruh langsung pada kinerja akademik.
Lingkungan belajar yang positif terbukti membantu meningkatkan kembali
motivasi. Dukungan kelompok belajar dan kolaborasi terbimbing sangat penting
dalam pemulihan. Proses pemulihan belajar tidak hanya soal akademik, tetapi
juga keseimbangan mental.
Upaya mengatasi learning loss
memerlukan pendekatan berbasis sains pendidikan. Latihan fokus bertahap seperti
teknik Pomodoro terbukti efektif membantu otak membangun kembali konsentrasi.
Kegiatan fisik rutin juga memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan memori dan
perhatian. Pengurangan penggunaan gawai secara berlebihan membantu
mengembalikan sensitivitas otak terhadap proses belajar tradisional. Lingkungan
belajar yang terstruktur mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis.
Pola tidur dan nutrisi yang baik juga menjadi faktor penentu dalam proses
pemulihan kognitif. Kesabaran dan konsistensi adalah bagian penting dalam
membangun kembali kemampuan fokus. Strategi ini membutuhkan kerja sama antara
pelajar, pendidik, dan lingkungan pendukung.
Learning loss bukan kondisi
permanen, namun membutuhkan penanganan serius. Dengan pendekatan yang tepat,
kemampuan akademik dapat kembali meningkat seiring waktu. Kesiapan mental dan
fisik menjadi fondasi utama dalam proses pemulihan belajar. Perubahan pola
belajar pascapandemi dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan belajar
yang lebih sehat. Penguatan literasi belajar dan teknik manajemen waktu perlu
menjadi prioritas. Setiap pelajar memiliki potensi untuk kembali mencapai
performa terbaik. Pemahaman mengenai learning loss membantu proses adaptasi
menjadi lebih efektif. Masa depan belajar yang lebih kuat justru dapat lahir
dari pemulihan saat ini.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google