Simulasi Kebencanaan Latih Siswa Lebih Sigap dan Tanggap
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Simulasi
kebencanaan digelar untuk melatih kesiapsiagaan siswa menghadapi berbagai
situasi darurat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan reaksi cepat dan
kesigapan siswa saat terjadi bencana. Para peserta diberikan pengarahan tentang
prosedur evakuasi dan pertolongan pertama. Simulasi mencakup skenario gempa
bumi, kebakaran, dan banjir. Aktivitas ini juga menekankan pentingnya kerjasama
tim dalam menghadapi keadaan kritis. Siswa belajar mengenali titik kumpul dan
jalur evakuasi dengan benar. Seluruh kegiatan berlangsung dengan pengawasan
ketat dan protokol keselamatan. Para siswa terlihat antusias dan penuh semangat
mengikuti setiap tahapan simulasi.
Dalam simulasi, siswa
dibagi menjadi kelompok untuk menjalankan berbagai skenario bencana. Setiap
kelompok diberi tugas untuk mengevakuasi korban dan mengamankan area sekitar.
Instruktur memberikan arahan secara bergiliran dan memberikan umpan balik langsung.
Penggunaan alat simulasi, seperti pelampung, tandu, dan alat pemadam kebakaran
mini, membuat latihan lebih realistis. Siswa juga dilatih untuk tetap tenang
dan fokus di tengah kepanikan. Proses ini membantu mereka memahami pentingnya
perencanaan dan koordinasi. Latihan ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir
cepat dalam kondisi darurat. Keikutsertaan aktif siswa menunjukkan keseriusan
mereka dalam belajar menghadapi bencana.
Selain keterampilan
teknis, simulasi ini menekankan aspek emosional siswa. Mereka belajar
mengendalikan rasa takut dan tetap berpikir logis saat menghadapi bahaya.
Simulasi ini juga mengajarkan empati terhadap korban bencana. Setiap siswa
diingatkan untuk saling membantu dan menjaga keselamatan rekan satu tim.
Aktivitas ini membangun rasa tanggung jawab dan kedisiplinan yang tinggi.
Mereka dihadapkan pada situasi yang menuntut keputusan cepat dan tepat. Hasil
latihan diukur berdasarkan kemampuan mereka meminimalkan risiko cedera. Dengan
demikian, siswa menjadi lebih percaya diri menghadapi situasi darurat.
Evaluasi setelah
simulasi menunjukkan peningkatan signifikan pada kesiapsiagaan siswa. Banyak
siswa yang mampu mengikuti prosedur evakuasi dengan cepat dan tepat. Mereka
juga menunjukkan pemahaman lebih baik terhadap langkah-langkah pertolongan
pertama. Aktivitas ini membantu mengidentifikasi area yang masih perlu
diperbaiki. Siswa diberikan tips praktis untuk meningkatkan respons mereka di
masa depan. Hasil simulasi dicatat untuk menjadi bahan pelatihan berkelanjutan.
Para siswa merasa pengalaman ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan mereka.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar bencana sejak dini.
Kegiatan simulasi
kebencanaan tidak hanya fokus pada latihan fisik. Pengetahuan tentang mitigasi
risiko dan langkah pencegahan juga disampaikan secara interaktif. Materi
diberikan dalam bentuk permainan, diskusi, dan praktik langsung. Hal ini
membuat siswa lebih mudah memahami dan mengingat prosedur keselamatan. Simulasi
juga menekankan pentingnya komunikasi efektif antaranggota tim. Kesadaran
terhadap lingkungan sekitar dan potensi bahaya semakin ditingkatkan. Kegiatan
ini diharapkan membekali siswa dengan keterampilan hidup yang berguna. Pada
akhirnya, siswa menjadi lebih sigap, tanggap, dan siap menghadapi berbagai
kemungkinan bencana.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri Suprapto