Tabula Rasa: Guru Harus Melihat Setiap Anak SD sebagai "Kertas Putih" yang Berharga
Pernahkah Anda mendengar istilah Tabula Rasa? Frasa Latin ini berarti "papan tulis yang bersih" atau "kertas yang kosong". Konsep ini sangat fundamental dalam psikologi pendidikan dan memiliki dampak besar pada cara guru memandang muridnya.
Meskipun konsep ini telah berkembang seiring perkembangan ilmu saraf (yang mengakui adanya bakat bawaan), filosofi utamanya—bahwa pengalaman adalah arsitek utama pembelajaran—tetap menjadi pegangan penting bagi guru SD.
Konsep Tabula Rasa paling sering dikaitkan dengan filsuf Inggris, John Locke (abad ke-17). Locke berpendapat bahwa manusia saat lahir tidak memiliki ide bawaan (innate ideas), dan seluruh pengetahuan kita diperoleh melalui indra dan pengalaman di dunia.
Guru sebagai penulis pertama
Menghilangkan Label Negatif
Bagi guru SD, melihat anak sebagai Tabula Rasa berarti menghilangkan semua label negatif yang mungkin dibawa anak dari lingkungan sebelumnya. Anak yang dicap "lamban" di kelas sebelumnya, harus dilihat sebagai kertas putih yang siap diisi dengan pengetahuan baru di kelas Anda.
Pentingnya Lingkungan yang Kaya
Jika pikiran anak adalah kertas kosong, maka kualitas tulisan di atasnya sangat bergantung pada lingkungan yang disediakan guru.
Guru yang memegang prinsip Tabula Rasa akan berinvestasi dalam menciptakan lingkungan yang kaya stimulus, aman, dan memicu eksplorasi. Mereka tahu bahwa setiap interaksi, setiap kata yang diucapkan, dan setiap pengalaman visual akan membentuk karakter dan pengetahuan anak.
Filosofi Tabula Rasa adalah pengingat yang kuat tentang tanggung jawab luar biasa seorang guru SD. Setiap anak yang masuk ke kelas Anda adalah kanvas baru. Pastikan Anda menuliskan cerita yang positif, penuh warna, dan menginspirasi di atasnya.
Penulis: Enola Aden