Tanggung Jawab tanpa Apresiasi
Menjabat sebagai ketua sering dianggap sebagai posisi yang prestisius. Banyak yang melihatnya sebagai tanda kemampuan, kepercayaan, dan kepemimpinan. Namun, di balik gelar yang terlihat mengesankan itu, tersimpan realita yang tidak selalu disadari oleh banyak orang: kisah tentang seorang ketua yang bekerja keras, tetapi justru sering dipandang sebelah mata. Sejak awal masa jabatan, ia membawa visi yang jelas. Harapannya sederhana, membenahi sistem kerja, menghidupkan kembali semangat anggota, dan menjadikan organisasi lebih aktif serta bermanfaat. Namun kenyataan tidak selalu berjalan seindah rencana. Beberapa anggota lebih suka mempertanyakan keputusan daripada mencari solusi. Sebagian lainnya hadir hanya ketika acara besar, tetapi menghilang saat proses panjang sedang berlangsung.
Dalam setiap rapat, ide-idenya terkadang kalah oleh suara-suara yang merasa lebih berpengalaman, atau sekadar ingin menunjukkan dominasi. Upaya yang dilakukan sering kali tidak tampak di permukaan, karena sebagian besar pekerjaan organisasi terjadi jauh sebelum sebuah acara terlaksana. Namun saat hasilnya keluar, masih saja ada kritik yang diarahkan kepadanya tanpa melihat kerja panjang yang telah dilakukan.
Tidak jarang komentar meremehkan bermunculan. Ada yang berkata “ketuanya kurang tegas”, ada pula yang menganggap “organisasi jadi kurang menarik”, padahal mereka yang mengeluh sering kali tidak terlibat dalam proses internal yang melelahkan. Situasi seperti ini membuatnya harus berhadapan dengan dua hal sekaligus, membangun organisasi dan menghadapi pandangan miring dari orang-orang di sekitarnya.
Meski begitu, perjalanan ini justru menjadi proses pendewasaan yang penting. Ia belajar bahwa kepemimpinan bukan soal mencari pujian atau penghargaan, melainkan soal konsistensi dalam bekerja. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling disukai, tetapi siapa yang tetap melakukan tugasnya meskipun kurang diapresiasi. Ketua dituntut untuk tampil kuat, mengambil keputusan, dan menjaga stabilitas internal, bahkan ketika dirinya sedang goyah. Ia harus memastikan program berjalan, anggota merasa dihargai, dan kegiatan tetap berlanjut, walaupun sering kali berada dalam tekanan.
Di balik semua tantangan tersebut, ada pelajaran besar yang ia temukan, pengakuan bukanlah bahan bakar utama dalam memimpin. Yang paling penting adalah dampak dari apa yang dilakukan termasuk perubahan kecil yang mungkin tidak semua orang lihat. Ketika sebuah kegiatan berjalan lancar, ketika anggota baru merasa nyaman, atau ketika organisasi perlahan berkembang, di sanalah nilai kepemimpinan sebenarnya terlihat.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mencatat siapa yang paling terlihat dalam memberi kritik, tetapi siapa yang benar-benar bekerja keras untuk membawa organisasi menjadi lebih baik. Dan dari kisah ini, satu hal dapat dipahami, menjadi ketua bukan soal dihormati, tetapi soal berani memimpin meski sering diremehkan.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus