Tantangan Pembelajaran Daring dan Dampaknya bagi Mahasiswa
Pembelajaran daring yang menjadi andalan sejak pandemi masih
menyisakan sejumlah tantangan berat bagi mahasiswa di berbagai wilayah hingga
tahun 2025. Koneksi internet yang tidak stabil, kurangnya interaksi sosial,
serta beban tugas yang berlebihan menjadi masalah utama yang paling sering
dilaporkan. Banyak mahasiswa mengaku mengalami penurunan motivasi belajar
karena merasa terisolasi dari teman dan dosen. Kelelahan layar atau zoom
fatigue muncul sebagai keluhan baru yang mempengaruhi konsentrasi dan kesehatan
mata. Biaya kuota internet yang tinggi masih memberatkan mahasiswa dari
keluarga kurang mampu. Rendahnya keterampilan digital dosen di beberapa kampus
memperparah kualitas pembelajaran. Gangguan di rumah seperti suara bising dan
keterbatasan ruang belajar juga menghambat proses belajar. Akibatnya, sebagian
besar mahasiswa merasakan dampak nyata pada prestasi akademik dan kesehatan
mental mereka.
Kurangnya interaksi tatap muka membuat mahasiswa kehilangan
diskusi spontan yang biasanya memperkaya pemahaman materi. Banyak yang merasa
hanya menjadi penonton pasif di depan layar tanpa pernah bertanya secara
langsung. Rasa kesepian meningkat drastis, terutama bagi mahasiswa perantau
yang tinggal sendirian di kos. Survei terbaru menunjukkan lebih dari lima puluh
persen mahasiswa mengalami gejala kecemasan ringan hingga sedang akibat
pembelajaran daring berkepanjangan. Waktu belajar yang tidak terstruktur sering
berujung pada prokrastinasi dan penumpukan tugas di akhir semester. Kualitas
tidur terganggu karena tugas sering dikerjakan hingga larut malam. Mahasiswa
juga kehilangan kesempatan membangun jaringan pertemanan dan kolaborasi
kelompok yang alami. Semua faktor ini menciptakan lingkaran setan yang semakin
menurunkan semangat belajar.
Tantangan teknis masih menjadi momok terbesar di luar pulau
Jawa dan daerah terpencil. Sinyal yang putus-putus membuat mahasiswa sering
tertinggal dalam kelas sinkronus. Kuota internet yang mahal memaksa sebagian
mahasiswa hanya mengandalkan wifi kampus yang kini sudah tidak lagi gratis.
Beberapa dosen masih menggunakan metode ceramah satu arah tanpa memanfaatkan
fitur interaktif platform. Tugas yang diberikan dalam jumlah besar tanpa
panduan jelas menyebabkan kebingungan massal. Plagiarisme meningkat karena
mahasiswa terdesak deadline dan minim pengawasan. Ujian daring yang rentan
kecurangan juga menurunkan integritas hasil belajar. Dampak jangka panjangnya,
banyak mahasiswa meragukan nilai ijazah yang mereka dapatkan melalui sistem
ini.
Dampak kesehatan mental menjadi konsekuensi paling
mengkhawatirkan dari pembelajaran daring yang berkepanjangan. Kasus depresi dan
burnout pada mahasiswa meningkat tajam dibandingkan era tatap muka. Rasa tidak
berdaya muncul ketika mahasiswa merasa tidak pernah cukup waktu untuk
menyelesaikan semua tugas. Kehilangan ritme kampus membuat sebagian mahasiswa
sulit membedakan hari kerja dan hari libur. Olahraga dan kegiatan
ekstrakurikuler yang minim memperburuk kondisi fisik dan emosional. Dukungan
konseling daring sering tidak efektif karena mahasiswa enggan membuka diri di
depan kamera. Banyak yang memilih diam dan menarik diri dari pergaulan secara
total. Jika tidak segera diatasi, generasi ini berpotensi menghadapi krisis
kesehatan mental yang lebih luas.
Meskipun demikian, sebagian tantangan ini mulai menemukan
solusi melalui pendekatan hybrid dan perbaikan infrastruktur. Beberapa kampus
kini menerapkan jadwal kuliah yang lebih manusiawi dengan jeda panjang antar
sesi. Platform pembelajaran terus diperbarui dengan fitur interaksi yang lebih
hidup dan menarik. Pelatihan literasi
digital bagi dosen menjadi program wajib di tingkat nasional. Mahasiswa juga
diajarkan manajemen waktu dan teknik mengatasi kelelahan layar sejak orientasi
awal. Langkah-langkah ini memberikan harapan bahwa pembelajaran daring dapat
tetap efektif tanpa mengorbankan kesejahteraan mahasiswa. Transformasi menuju
sistem yang lebih seimbang menjadi kunci agar mahasiswa tidak lagi menjadi
korban dari revolusi digital yang terlalu cepat.
Penulis : Nuni Maryana Andini