TOXIC PRODUCTIVITY: KETIKA KEINGINAN PRODUKTIF JUSTRU MENGURAS DIRI
Kegiatan yang produktif memang seringkali memberikan manfaat bagi diri kita sendiri, terutama dalam hal pengembangan kemampuan. Banyak orang merasa harus terus bekerja agar terlihat mempunyai nilai lebih. Namun, apabila kegiatan tersebut dilakukan secara berlebihan, justru dapat menimbulkan kelelahan yang tidak disadari. Kondisi seperti ini sering muncul ketika seseorang memaksakan diri untuk terus bergerak tanpa memperhatikan batas tubuh. Dalam situasi tertentu, produktivitas berlebihan dapat menyebabkan stres yang sulit dikendalikan. Tanda-tanda awalnya kadang tidak disadari, seperti mudah lelah atau sulit fokus. Jika hal itu terus berlanjut, maka kesehatan fisik dan mental bisa melemah. Oleh karena itu, kemampuan mengenali batas diri menjadi hal yang penting untuk diperhatikan sejak awal.
Toxic productivity biasanya muncul ketika seseorang selalu merasa harus mencapai target baru meskipun dirinya belum pulih dari aktivitas sebelumnya. Perasaan tidak boleh berhenti sering kali berasal dari tekanan lingkungan atau standar diri yang terlalu tinggi. Banyak orang merasa bersalah jika mengambil waktu istirahat, seolah-olah itu tanda kemalasan. Pola pikir seperti ini justru membuat seseorang semakin menjauh dari keseimbangan hidup. Pada kenyataannya, setiap orang tetap membutuhkan waktu jeda agar energi dapat dipulihkan dengan baik. Ketika tubuh terlalu dipaksa, hasil kerja pun tidak bisa maksimal. Selain itu, kebiasaan bekerja terus-menerus dapat mengurangi kualitas hubungan sosial dengan orang terdekat. Jika hal ini dibiarkan, maka toxic productivity dapat mengganggu kehidupan secara keseluruhan.
Fenomena toxic productivity semakin sering ditemui di kalangan pelajar maupun pekerja yang ingin selalu terlihat berprestasi. Banyak pelajar memaksakan diri untuk belajar sepanjang waktu tanpa mempertimbangkan kebutuhan istirahat. Hal ini biasanya disebabkan oleh kekhawatiran akan tertinggal dari teman-temannya. Tekanan akademik yang tinggi terkadang membuat siswa sulit mengatur ritme belajarnya. Di sisi lain, pekerja yang ingin mendapatkan hasil terbaik juga cenderung memaksakan lembur tanpa memperhatikan kondisi tubuhnya. Kebiasaan ini lambat laun dapat menurunkan motivasi serta membuat seseorang cepat merasa jenuh. Selain itu, produktivitas yang dipaksakan biasanya tidak menghasilkan kualitas kerja yang optimal. Dengan demikian, keseimbangan antara kerja dan istirahat menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga.
Untuk mengatasi toxic productivity, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami bahwa istirahat bukanlah sebuah kemunduran. Istirahat justru menjadi bagian dari proses agar seseorang tetap berada dalam kondisi terbaik. Menyusun jadwal harian yang realistis dapat membantu mengurangi tekanan. Selain itu, memberi ruang jeda dalam setiap aktivitas memungkinkan tubuh dan pikiran tetap stabil. Banyak orang merasa lebih fokus setelah memberikan waktu bagi diri sendiri untuk bernapas. Membiasakan diri untuk melakukan kegiatan yang menenangkan juga dapat membantu mengurangi stres. Ketika seseorang sudah mulai mengenali ritme tubuhnya, produktivitas pun terasa lebih ringan dijalani. Dengan begitu, kerja keras dan kesehatan tetap berjalan seimbang.
Selain perencanaan waktu, dukungan lingkungan juga berperan penting dalam mencegah toxic productivity. Lingkungan yang menghargai proses akan membuat seseorang tidak merasa terbebani untuk terus bergerak tanpa henti. Orang-orang yang berada di sekitar kita dapat memberikan pengingat ketika mulai terlihat kelelahan. Selain itu, komunikasi yang baik dengan teman atau keluarga bisa membantu seseorang melihat batas dirinya lebih jelas. Membicarakan beban pekerjaan atau belajar dapat mengurangi tekanan yang dialami. Ketika dukungan sosial kuat, seseorang tidak merasa harus menjalani semuanya sendiri. Dengan demikian, toxic productivity dapat diatasi secara bertahap. Pada akhirnya, keseimbangan antara usaha dan pemulihan menjadi kunci agar produktivitas tetap sehat dan tidak menguras diri.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari