Tugas, Target, dan Tekanan: Potret Burnout Mahasiswa Masa Kini
Tuntutan prestasi membuat mahasiswa terus membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memperparah kondisi ini karena menampilkan sisi "sukses" teman sebaya yang seolah hidup tanpa beban. Mahasiswa merasa tertinggal jika tidak aktif organisasi, tidak lulus cepat, atau tidak memiliki portofolio mentereng.
Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), stres berkepanjangan dapat berdampak langsung pada kesehatan mental mahasiswa dan menurunkan kemampuan berpikir jernih (https://www.nimh.nih.gov). Beban psikologis yang tidak tersalurkan membuat mahasiswa kehilangan semangat dan tujuan.
Tekanan juga datang dari lingkungan keluarga. Banyak mahasiswa memikul harapan besar sebagai "harapan keluarga". Ketika hasil tak sesuai ekspektasi, muncul rasa bersalah dan takut mengecewakan.
Universitas seharusnya menjadi ruang aman bagi perkembangan mental mahasiswa, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Banyak kampus internasional mulai menyediakan layanan konseling dan kampanye kesadaran mental health. Informasi praktik baik dunia kampus bisa ditelusuri melalui Times Higher Education di https://www.timeshighereducation.com .
Mahasiswa perlu belajar membedakan ambisi dan tekanan berlebihan. Tidak semua harus dicapai sekaligus. Ada waktu untuk berjuang, ada waktu untuk berhenti.
Burnout bukan kelemahan, tetapi sinyal bahwa tubuh dan jiwa sedang meminta perhatian.