“Ubah PembeVR & AR lajaran Sejarah Menjadi Pengalaman Nyata di Ruang Kelas”
pgsd.fip.unesa.ac.id Penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) kini mulai diterapkan dalam pembelajaran sejarah di ruang kelas. Inovasi ini memberikan pengalaman belajar yang terasa lebih nyata bagi para siswa. Mereka tidak hanya membaca peristiwa sejarah, tetapi dapat melihat visualisasi lokasi kejadian seolah berada di tempat tersebut. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mendalam terhadap materi yang dipelajari. Banyak siswa merasa lebih antusias saat mengikuti pembelajaran berbasis teknologi imersif. Guru melihat perubahan signifikan dalam keterlibatan siswa selama proses belajar. Aktivitas belajar menjadi lebih menarik dan tidak lagi hanya terpaku pada buku teks. Penerapan VR dan AR dianggap sebagai terobosan besar dalam metode pembelajaran modern.
Dalam praktiknya, teknologi VR
memungkinkan siswa menjelajahi situs sejarah tanpa harus melakukan perjalanan
ke lokasi asli. Sementara itu, AR menampilkan objek dan peninggalan sejarah
secara tiga dimensi di hadapan pengguna. Siswa dapat memutar, memperbesar, dan
mengamati detail artefak secara langsung melalui layar perangkat. Hal ini
membantu mereka memahami nilai budaya dan konteks peristiwa penting masa lalu.
Pendekatan visual interaktif terbukti meningkatkan daya ingat siswa terhadap
fakta sejarah. Banyak pendidik menilai metode ini efektif untuk mengatasi
kebosanan dalam kelas. Dengan tampilan realistis, pembelajaran terasa seperti
sebuah petualangan baru. Perubahan ini membuka pintu bagi pembelajaran sejarah
yang jauh lebih bermakna.
Selain menarik minat siswa,
teknologi VR dan AR memberi kesempatan kepada guru untuk menyampaikan materi
secara kreatif. Mereka dapat menyusun simulasi perjalanan waktu yang membawa
siswa menyaksikan kembali rekonstruksi peristiwa sejarah. Siswa dapat merasakan
pengalaman berada dalam suasana masa tertentu melalui suara, gambar, dan
animasi. Aktivitas berbasis eksplorasi membantu menumbuhkan rasa ingin tahu
yang kuat. Pembelajaran tidak lagi bersifat pasif, tetapi mendorong siswa aktif
mencari tahu. Guru juga dapat mengembangkan proyek kolaboratif untuk
memperdalam diskusi. Pembelajaran semacam ini dipercaya mendukung pengembangan
keterampilan berpikir kritis. Teknologi menjadikan proses belajar lebih
fleksibel dan menyenangkan.
Beberapa tantangan tetap harus
dipertimbangkan dalam penerapan VR dan AR. Di antaranya adalah kebutuhan
perangkat yang memadai dan keterampilan pengguna agar teknologi dapat digunakan
secara optimal. Pelatihan kepada guru menjadi penting agar implementasi
berjalan sesuai tujuan pembelajaran. Selain itu, kesiapan siswa dalam
mengoperasikan teknologi juga perlu diperhatikan. Meski demikian, banyak
sekolah yang mulai mencoba penggunaan peralatan sederhana sebagai tahap awal.
Kolaborasi antara guru dan siswa menjadi kunci keberhasilan program ini.
Penerapan bertahap menunjukkan hasil positif dari waktu ke waktu. Dukungan
terhadap pengembangan teknologi pendidikan diprediksi akan terus meningkat ke
depannya.
Dengan berbagai manfaat yang
ditawarkan, VR dan AR menjadi strategi inovatif dalam menciptakan pembelajaran
sejarah yang lebih relevan. Ruang kelas kini tidak lagi terbatas oleh dinding,
melainkan dapat membawa siswa menjelajah berbagai peristiwa dunia. Teknologi
membuka peluang untuk mengembangkan pengalaman belajar berbasis petualangan
edukatif. Pembelajaran sejarah berubah dari sekadar membaca menjadi merasakan
langsung. Banyak pihak percaya bahwa pendekatan ini akan berdampak besar pada
kualitas pendidikan masa depan. Siswa belajar memahami nilai penting dari
sejarah melalui pengalaman nyata. Transformasi digital memberi kesan mendalam
yang sulit diperoleh melalui metode tradisional. Perkembangan ini menunjukkan
bahwa masa depan pendidikan semakin dinamis dan penuh peluang.
Penulis: Mutia Syafa
Foto: Google