Visual Pedagogy Revolution: Canva as a Core Competency for Future Elementary Teachers
Perubahan paradigma pendidikan dasar menuntut guru untuk menguasai literasi visual sebagai bagian dari kompetensi profesional abad ke-21. Canva hadir sebagai platform yang memungkinkan calon guru sekolah dasar mengintegrasikan kreativitas dengan pedagogi secara efektif. Transformasi ini menempatkan visual sebagai jembatan penting antara konsep abstrak dan pemahaman konkret yang dibutuhkan siswa SD. Mahasiswa PGSD dapat menggunakan Canva untuk menyusun diagram, alur, dan ilustrasi edukatif yang mendukung pemahaman konsep. Perubahan tersebut mendorong guru untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi merancang pengalaman belajar yang terstruktur dan menarik. Dengan demikian, Canva memperluas ruang kerja guru dari sekadar pengajar menjadi desainer pembelajaran. Platform ini sekaligus memaksa institusi pendidikan guru untuk memperkuat pelatihan literasi visual sejak awal perkuliahan.
Dalam praktik perkuliahan, Canva telah membuktikan fungsinya sebagai alat pedagogis yang mendorong mahasiswa PGSD berpikir sistematis. Pembuatan media visual mengharuskan mereka menganalisis capaian pembelajaran, kebutuhan siswa, dan tingkat kesulitan materi sebelum menentukan bentuk representasi visual yang tepat. Proses tersebut memperkuat kemampuan elaborasi dan penyederhanaan konsep yang sangat penting bagi guru sekolah dasar. Canva menyediakan ribuan aset grafis yang membantu guru menyesuaikan materi dengan konteks lokal dan karakteristik siswa. Selain itu, kemampuan drag-and-drop mempermudah mahasiswa menghasilkan karya berkualitas tanpa harus memiliki latar belakang desain. Hal ini membuat calon guru lebih fokus pada isi pedagogis daripada persoalan teknis desain. Dengan demikian, Canva bukan hanya mempermudah produksi, tetapi juga memperkuat proses berpikir pedagogis.
Canva mendukung penggunaan strategi pembelajaran aktif seperti Project-Based Learning dan Discovery Learning dalam pendidikan guru sekolah dasar. Mahasiswa dapat menghasilkan produk pembelajaran berupa poster riset kecil, laporan visual, hingga media berbasis kartu yang memacu eksplorasi siswa. Proyek tersebut memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bekerja kolaboratif, yang relevan dengan praktik sekolah sesungguhnya. Selain itu, Canva mendukung integrasi multimedia seperti video, audio, dan QR Code yang memperkaya pengalaman belajar. Hal ini memungkinkan guru membangun pembelajaran lintas media yang lebih modern dan adaptif. Dengan memanfaatkan fitur kolaborasi real-time, mahasiswa dapat menyusun media bersama tanpa terhambat lokasi geografis. Ini menjadi bukti bahwa Canva bukan hanya alat desain, tetapi platform kolaboratif untuk pembelajaran inovatif.
Dalam konteks kelas sekolah dasar, Canva memberi keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan media dengan kebutuhan diferensiasi, terutama bagi siswa dengan gaya belajar visual atau kinestetik. Guru dapat membuat kartu belajar berwarna, infografis sederhana, dan cerita bergambar yang membantu siswa memahami materi secara bertahap. Keberagaman aset visual memungkinkan guru menyesuaikan tampilan media tanpa kehilangan kejelasan informasi. Canva juga mendukung pembuatan media ramah disleksia dengan penggunaan font, kontras warna, dan layout yang sesuai standar keterbacaan. Penggunaan media yang tepat dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam diskusi dan kegiatan kelas. Dengan demikian, Canva memiliki peran strategis dalam mewujudkan pembelajaran inklusif yang adaptif terhadap keberagaman siswa. Kemampuan ini semakin relevan di tengah tuntutan kurikulum merdeka yang fleksibel.
Namun, efektivitas Canva sangat bergantung pada kemampuan guru memadukan estetika dengan logika pembelajaran yang kuat. Guru harus menyadari bahwa terlalu banyak dekorasi dapat mengalihkan perhatian siswa dari konsep inti. Oleh karena itu, calon guru perlu dibekali pemahaman mengenai prinsip desain instruksional untuk menentukan keseimbangan ideal antara informasi dan estetika. Program pendidikan guru harus fokus pada evaluasi media, bukan hanya produksi, sehingga mahasiswa dapat belajar membedakan visual yang informatif dan visual yang mengganggu. Selain itu, pelatihan reflektif seperti microteaching berbasis media wajib dilakukan agar mahasiswa dapat menguji desain mereka pada siswa sekolah dasar. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, Canva dapat menjadi instrumen transformasi pembelajaran, bukan sekadar alat membuat tampilan menarik. Jika digunakan secara tepat, Canva akan memperkuat kualitas pendidikan dasar di era digital.
Penulis: Putri Arina Hidayati