Apakah Pujian Selalu Baik?
Pujian sering dianggap sebagai hadiah. Kata sederhana seperti “kamu hebat”, “kamu pintar”, atau “keren banget kamu” terdengar menyenangkan dan bisa membuat seseorang merasa lebih dihargai. Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa pujian akan meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri.
Namun ada saat di mana pujian justru membawa tekanan baru. Beberapa orang merasa semakin takut berbuat salah setelah menerima pujian karena khawatir tidak bisa mempertahankan citra yang sudah melekat pada dirinya. Terkadang pujian bukan hanya memberi semangat, tetapi juga diam-diam menciptakan beban.
Fenomena ini banyak dialami oleh anak muda, terutama mahasiswa. Ketika seseorang dianggap selalu pintar, selalu bisa mengatasi masalah, atau selalu berprestasi, pandangan itu bisa berubah menjadi standar yang membuat orang merasa harus selalu sempurna. Alih-alih merasa bangga, ia justru mulai memandang pujian sebagai sesuatu yang harus terus dibuktikan.
Perasaan itu membuat banyak orang lebih memilih bermain aman daripada mencoba hal baru. Ada yang takut mencoba kelas baru karena khawatir nilainya tidak sebagus ekspektasi orang lain. Ada yang menolak tantangan karena takut gagal terlihat mencolok. Bahkan ada yang memilih diam di zona nyaman hanya agar label “hebat” tetap aman.
Pujian yang terlalu fokus pada hasil juga dapat membuat orang kurang menghargai proses. Ketika seseorang tumbuh dengan kalimat “kamu pintar”, ia bisa jadi percaya bahwa kemampuan adalah bawaan, bukan sesuatu yang dikembangkan melalui latihan dan usaha. Saat ia mengalami kesulitan, bisa saja muncul pikiran “berarti aku tidak pintar”, bukan “aku hanya belum menguasai ini”.
Sebaliknya, pujian yang menyoroti usaha memiliki dampak yang lebih sehat. Kata seperti “kamu sudah berusaha keras”, “progresmu terlihat”, atau “teruskan belajarnya” membantu seseorang tetap termotivasi tanpa merasa terbebani oleh hasil akhir. Pujian jenis ini memberi ruang untuk gagal, belajar, dan tumbuh.
Pujian pada dasarnya bukan hal buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pujian itu diberikan dan bagaimana penerimanya memaknainya. Tidak semua orang membutuhkan tepuk tangan besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kehadiran, dukungan, atau pengakuan bahwa prosesnya layak dihargai.
Kalimat sederhana seperti “tidak apa-apa berjalan pelan, kamu tetap berkembang” mungkin jauh lebih berarti dibanding pujian yang membuat seseorang merasa harus selalu sempurna.
Pada akhirnya, pujian seharusnya menjadi dorongan, bukan tekanan. Seharusnya membuat seseorang merasa lebih bebas mencoba, bukan lebih takut gagal. Karena menjadi hebat bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi tentang berani belajar dan bertumbuh dengan cara dan ritme yang sesuai dengan diri sendiri.
Jika hari ini kamu tidak sempurna, itu bukan berarti kamu gagal. Kamu hanya sedang menjalani proses. Dan proses itu layak dihargai.
Penulis: Hafizh Muhammad Ridho