Kadang Aku Ingin Lari dari Cerita Hidupku Sendiri
Kadang, ada fase dalam hidup ketika seseorang ingin berhenti sejenak dari ceritanya sendiri. Bukan karena tidak bersyukur, bukan pula karena ingin menyerah. Namun karena proses menuju dewasa ternyata tidak sesederhana yang dulu dibayangkan. Tanggung jawab datang bertubi-tubi, keputusan harus diambil sendiri, sementara rasa lelah sering kali tidak sempat diceritakan.
“Aku” dalam cerita ini bukan hanya satu orang. Ia adalah representasi dari banyak anak muda yang sedang bertumbuh. Entah ia anak pertama yang sejak awal dituntut kuat, anak tengah yang sering terlewatkan, anak bungsu yang harus dewasa lebih cepat, atau siapa pun yang berada di posisi apapun dalam keluarga. Ketika jalannya terasa berat, itu berarti ia sedang berjuang.
Ada “aku” yang belajar mandiri sejak dini. Terbiasa mengandalkan diri sendiri, meski dalam hati berharap ada yang datang sekadar untuk menguatkan. Ada perempuan yang harus berhadapan dengan ekspektasi dan batasan, berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri setara. Ada laki-laki yang diam-diam memikul tanggung jawab besar, mengejar waktu orang tua yang kian menua, sambil menata hidupnya sendiri.
Di fase ini, perjuangan hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang berjuang agar bisa kuliah, ada yang kuliah sambil bekerja, ada pula yang memanfaatkan waktu liburan untuk bekerja paruh waktu. Bukan karena tidak ingin beristirahat, tetapi karena keadaan menuntut untuk terus bergerak. Ada yang seharusnya bisa bergantung, namun memilih mencari penghasilan sendiri demi membantu keluarga.
Proses pendewasaan memang tidak selalu terlihat. Banyak lelah yang disimpan sendiri, banyak air mata yang jatuh tanpa saksi. Dunia seringkali hanya tertarik pada hasil akhir, gelar, pekerjaan, pencapaian, tanpa benar-benar peduli pada perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian.
Di titik ini, membandingkan diri dengan orang lain justru terasa melelahkan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Ada yang melangkah cepat, ada yang tertatih. Tidak ada yang salah, tidak ada yang tertinggal. Semua sedang berjalan sesuai kemampuan dan keadaan yang dihadapi.
Karena jarang ada yang benar-benar memahami proses tersebut, belajar menghargai diri sendiri menjadi hal yang penting. Bertahan di tengah lelah, tetap bangun setiap hari, dan terus melangkah meski tidak selalu yakin, itu sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua perjuangan perlu dilihat orang lain untuk menjadi berarti.
Kadang aku ingin lari dari cerita hidupku sendiri. Namun, semakin dijalani, ada kesadaran pelan-pelan tumbuh: cerita ini memang penuh plot twist, tetapi setiap langkah yang dilalui adalah bukti bahwa “aku” sedang tumbuh. Dan selama masih berusaha, cerita ini pantas untuk terus dilanjutkan.
Penulis: Qonita Adzkiya’