Lelah yang Tidak Terlihat & Keterpaksaan Bertahan
Ada jenis lelah yang tidak bisa diatasi hanya dengan tidur. Tubuh mungkin beristirahat, tetapi pikiran tetap bekerja. Lelah semacam ini sering kali muncul tanpa sebab yang jelas. Tidak ada peristiwa besar yang terjadi, tidak ada masalah yang tampak di permukaan, tetapi hati terasa berat dan langkah terasa lambat.
Lelah emosional sering kali lahir dari akumulasi hal-hal kecil. Tuntutan untuk selalu kuat, harapan orang lain, dan tekanan untuk terlihat baik-baik saja. Banyak orang terbiasa menekan perasaannya sendiri demi menjaga harmoni. Tanpa disadari, penekanan ini menumpuk dan berubah menjadi kelelahan yang sulit dijelaskan.
Dalam masyarakat yang menghargai ketahanan, mengaku lelah sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, banyak orang memilih diam dan tetap berjalan meski tenaga hampir habis. Mereka tersenyum di luar, tetapi merasa kosong di dalam. Padahal, mengakui lelah adalah langkah awal untuk memulihkan diri.
Berhenti sejenak tidak berarti menyerah. Ia justru menjadi bentuk keberanian untuk merawat diri. Mendengarkan tubuh dan emosi adalah keterampilan yang perlu dipelajari. Tidak semua kelelahan membutuhkan solusi instan. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk jujur pada diri sendiri.
Capek tapi tetap jalan adalah realitas banyak orang dewasa. Namun, berjalan tanpa arah dan tanpa jeda hanya akan membuat langkah semakin berat. Dengan mengenali lelah, seseorang belajar untuk berjalan dengan ritme yang lebih manusiawi.
Penulis: Dessinta Nabila Sukardanu