Kenapa Hal Sederhana Bisa Jadi Healing Paling Ampuh
Di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tuntutan, kata healing sering terdengar seperti sesuatu yang besar dan mahal. Pergi liburan jauh, menginap di tempat tenang, atau menjauh dari rutinitas. Padahal, tidak semua orang punya waktu, tenaga, dan kesempatan untuk itu. Namun menariknya, banyak orang justru menemukan ketenangan dari hal-hal yang sangat sederhana.
Healing tidak selalu tentang lari jauh dari masalah, melainkan memberi jeda pada diri sendiri. Duduk diam, menghirup udara, menikmati suasana, atau melakukan aktivitas ringan yang disukai. Hal-hal kecil ini sering kali terasa lebih jujur dan mudah dijangkau dibandingkan upaya besar yang justru melelahkan.
Hal sederhana bekerja karena memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas. Ketika seseorang menikmati hujan, menunggu ikan di ujung pancing, menyantap makanan favorit, atau terlibat dalam kegiatan yang disukai, fokus pikiran berpindah dari beban ke momen saat ini. Tanpa disadari, tubuh dan pikiran mulai rileks.
Selain itu, aktivitas sederhana cenderung tidak menuntut hasil. Tidak ada target, tidak ada penilaian. Inilah yang membuatnya menenangkan. Seseorang tidak perlu menjadi “produktif” untuk merasa cukup. Cukup hadir dan menikmati sudah menjadi bentuk pemulihan itu sendiri.
Hal sederhana juga sering membawa nostalgia. Mengingat masa kecil, masa ketika kebahagiaan tidak serumit sekarang. Perasaan aman, tenang, dan ringan itu muncul kembali, meski hanya sebentar. Namun, sebentar pun sudah cukup untuk menguatkan langkah selanjutnya.
Penting untuk dipahami bahwa healing tidak berarti masalah langsung hilang. Beban hidup tetap ada, tanggung jawab tetap menunggu. Tetapi dengan memberi diri sendiri ruang untuk pulih, seseorang bisa kembali melanjutkan hari dengan energi yang lebih utuh.
Pada akhirnya, healing paling ampuh adalah yang paling bisa dijalani. Tidak harus sempurna, tidak harus mahal. Selama itu membuat hati sedikit lebih tenang dan pikiran lebih jernih, maka hal sederhana pun layak disebut sebagai penyembuhan.
Penulis: Qonita Adzkiya’