BELAJAR DARI WAKTU YANG TAK BISA DIULANGI
Waktu adalah salah satu hal yang sering dianggap biasa, sampai akhirnya kita sadar bahwa ia tidak bisa kembali. Banyak momen dalam hidup berlalu begitu saja tanpa sempat kita sadari maknanya. Saat itu terjadi, kita sering berpikir akan ada kesempatan lain di kemudian hari. Namun kenyataannya, tidak semua hal bisa diulang dengan kondisi yang sama. Penyesalan sering muncul bukan karena kita melakukan kesalahan besar, tetapi karena kita melewatkan momen kecil yang sebenarnya berharga. Momen bersama orang tersayang, percakapan sederhana, atau kebersamaan yang dulu terasa sepele. Ketika waktu itu berlalu, yang tersisa hanya ingatan. Dari sinilah proses belajar dimulai.
Banyak penyesalan berakar dari ketidaksadaran kita dalam menghargai waktu. Kita terlalu sibuk mengejar hal lain hingga lupa memberi ruang untuk orang-orang yang berarti. Ada kalanya kita menunda kebersamaan dengan alasan lelah atau sibuk. Kita berpikir masih punya banyak waktu di depan. Padahal, perubahan bisa datang tanpa peringatan. Orang bisa pergi, keadaan bisa berubah, dan kesempatan bisa tertutup. Saat itulah penyesalan terasa berat karena tidak ada cara untuk mengulangnya. Dari situ, kita belajar bahwa waktu tidak selalu menunggu kesiapan kita.
Belajar dari waktu yang tak bisa diulangi bukan berarti terus hidup dalam rasa menyesal. Justru, pembelajaran terbesar datang ketika kita mengubah cara memaknai waktu ke depan. Kesadaran ini membuat kita lebih hadir di setiap momen. Kita mulai belajar untuk benar-benar mendengarkan, bukan sekadar hadir secara fisik. Kita mulai menghargai kebersamaan, sekecil apa pun itu. Proses ini memang tidak instan karena kebiasaan lama sering kali masih terbawa. Namun perlahan, kesadaran tersebut membentuk sikap yang lebih peduli. Waktu menjadi sesuatu yang lebih bermakna, bukan sekadar rutinitas.
Menghadapi kenyataan bahwa waktu tidak bisa diulang memang tidak mudah. Ada rasa sedih ketika mengingat momen yang seharusnya bisa dijalani dengan lebih baik. Tetapi dari kesadaran itu, seseorang bisa bertumbuh secara emosional. Waktu mengajarkan bahwa kehadiran lebih berharga daripada rencana yang tertunda. Kita tidak selalu bisa memberi yang terbaik di masa lalu, tetapi kita masih bisa belajar darinya. Pembelajaran ini membantu kita untuk lebih bijak dalam membuat prioritas. Kita menjadi lebih selektif dalam menentukan apa yang benar-benar penting. Dengan begitu, waktu yang berjalan tidak kembali terbuang percuma.
Pada akhirnya, waktu yang tak bisa diulangi bukan untuk disesali terus-menerus, tetapi untuk dipahami. Setiap momen yang telah lewat membawa pelajaran yang berbeda bagi setiap orang. Kesadaran ini membuat kita lebih bertanggung jawab terhadap waktu yang sedang kita miliki sekarang. Kita belajar untuk tidak menunda hal-hal yang bermakna. Belajar dari waktu berarti belajar hadir sepenuhnya dalam hidup. Dengan cara itu, kita menjadi lebih peka terhadap momen kecil yang sering terabaikan. Ketika suatu hari menoleh ke belakang, yang tersisa bukan hanya penyesalan. Melainkan rasa syukur karena pernah benar-benar hidup di momen tersebut.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari