Benarkah Dewasa Itu Soal Umur?
Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa kedewasaan datang otomatis seiring bertambahnya usia. Saat masih anak-anak, kita sering mendengar kalimat seperti "Nanti kalau sudah besar pasti paham" atau "Kalau sudah dewasa kamu akan lebih bijak." Seolah-olah ulang tahun ke-17, 21, atau 25 otomatis membuat seseorang lebih matang, lebih terarah, dan lebih siap menghadapi hidup.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak orang dewasa secara usia masih kebingungan mengambil keputusan, kesulitan mengelola emosi, atau takut menghadapi tanggung jawab. Sementara itu ada juga orang yang masih sangat muda namun mampu berpikir matang, mengambil keputusan dengan pertimbangan, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Pada titik ini muncul pertanyaan yang penting. Apakah benar kedewasaan hanya diukur dari umur? Atau sebenarnya kedewasaan lebih dekat pada cara seseorang menghadapi hidup?
Dewasa bukan tentang seberapa tua seseorang, melainkan bagaimana ia memperlakukan diri dan orang lain. Dewasa berarti mampu menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi tetap berusaha menghadapinya. Dewasa berarti memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dewasa juga berarti berani meminta maaf ketika salah dan tidak menyalahkan keadaan maupun orang lain untuk menutupi kekurangan diri.
Sering kali kedewasaan muncul bukan karena usia, tetapi karena pengalaman. Rasa sakit, kegagalan, kehilangan, tanggung jawab baru, atau perubahan hidup besar sering kali menjadi guru yang jauh lebih efektif daripada hitungan angka usia. Dari pengalaman itulah seseorang belajar memahami batas diri, belajar berkata tidak, belajar menghargai proses, dan belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dikontrol.
Ada orang yang terlihat dewasa karena pandai bersikap keras dan tegas. Namun sebenarnya kedewasaan tidak selalu soal ketegasan. Terkadang kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap lembut, meski pernah terluka. Terkadang kedewasaan adalah kesediaan untuk mendengarkan sebelum menilai. Terkadang kedewasaan adalah memahami kapan harus berjuang dan kapan harus melepaskan.
Jika hari ini kamu merasa belum sepenuhnya dewasa, itu tidak apa-apa. Tidak ada yang langsung paham segalanya hanya karena sudah memasuki usia tertentu. Tidak ada yang otomatis matang hanya karena dunia menganggap waktunya sudah tiba. Menjadi dewasa adalah perjalanan, bukan perlombaan. Setiap orang menjalani kecepatannya sendiri.
Yang terpenting adalah terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan demi memenuhi standar orang lain, tetapi demi membangun hidup yang lebih sehat untuk diri sendiri. Karena pada akhirnya dewasa tidak lagi soal usia, tetapi soal pilihan. Pilihan untuk bertanggung jawab. Pilihan untuk tumbuh. Pilihan untuk memahami diri dan kehidupan dengan lebih bijak.
Dan proses itu tidak pernah benar-benar selesai.
Penulis: Hafizh Muhammad Ridho