Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar Melalui Metode STEAM
Sejumlah sekolah dasar di Jawa Timur mulai menerapkan metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) sebagai inovasi pembelajaran abad ke-21. Pendekatan ini menggabungkan lima bidang keilmuan secara terpadu agar peserta didik mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan nyata di sekitarnya. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, melainkan fasilitator yang membimbing siswa untuk bereksperimen dan menemukan solusi.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran STEAM dilakukan melalui kegiatan berbasis proyek, seperti membuat jembatan mini dari bahan daur ulang untuk memahami konsep gaya dan struktur, atau menanam tanaman hidroponik sederhana untuk belajar sains dan teknologi. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar secara kontekstual dan menyenangkan. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Timur, lebih dari 60% sekolah dasar telah mengintegrasikan unsur STEAM dalam minimal dua mata pelajaran.
Penerapan metode ini dinilai efektif meningkatkan motivasi belajar sekaligus menumbuhkan minat terhadap bidang sains dan teknologi sejak usia dini. Guru yang telah mengikuti pelatihan STEAM melaporkan bahwa siswa menjadi lebih aktif dan berani berpendapat dalam proses pembelajaran. Inovasi ini diharapkan mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global dengan keterampilan abad ke-21.