Ketika Musim Buah
Wah, harum sekali.
Bau semerbak itu
begitu kuat hingga membuat Nono terbangun lebih cepat dari biasanya. Matanya
masih sedikit mengantuk, tapi indra penciumannya seolah memaksanya untuk mencari
sumber aroma yang begitu menggoda.
"Musim buah
sudah tiba rupanya," gumam Nono sambil menguap kecil.
la segera bangun
dari kasurnya, melipat selimut, lalu bergegas keluar kamar. Begitu membuka
pintu depan, matanya berbinar. Di halaman rumah, pohon mangga yang tinggi
menjulang tampak penuh dengan buah ranum berwarna hijau kekuningan. Beberapa di
antaranya bahkan sudah jatuh ke tanah, mengeluarkan aroma manis yang menyebar
hingga ke dalam kamar tidurnya.
"Pantas saja
baunya tercium sampai kamar. Wah, pasti enak sekali kalau dimakan siang
nanti," kata Nono sambil menengadah.
Setelah puas
memandangi pohon mangga, Nono segera bersiap berangkat sekolah. la mengeluarkan
sepeda biru kesayangan dengan keranjang kecil di depan. Dengan penuh semangat,
ia mengayuh pedal, bergegas menuju sekolah. Angin pagi menyapa wajahnya,
memberi semangat baru untuk memulai hari.
Di tengah
perjalanan...
Tiba-tiba... Pluk!
"Haaa!"
Nono terkejut. Seekor ulat berbulu jatuh tepat di atas sepatunya sisi kirinya.
Tubuh sangat berisi itu menggeliat, bulu-bulunya tampak menggelitik sekaligus
tampilan kepala yang menakutkan.
"Aduh, ulat berbulu!
Ini sudah pasti akan membuat gatal-gatal apabila terkena kulit langsung!"
seru Nono panik. la segera mengibaskan kakinya keras-keras hingga ulat itu
terjatuh ke tanah.
Namun, rasa lega
Nono hanya sebentar. Tak lama kemudian, dari dahan pohon yang ia lewati, dan di
depan pandangan Nono, kanan kiri berjejer pohon mangga disulat ulat lain tampak
bergelantungan juga ada yang melata di atas aspal. Angin membuat mereka seperti
bermain ayunan, seolah siap jatuh kapan saja. Nono mulai merasa was-was.
"Kalau terus
begini, bisa-bisa ada yang jatuh ke kepalaku yang botak ini," pikirnya
cemas. Ia mencoba menundukkan badan sambil terus mengayuh sepeda, berharap bisa
melewati jalan itu dengan cepat.
Saat itu Nono baru
teringat sesuatu. "Ah, andai saja tadi aku membawa topi. Kan bisa
melindungi kepalaku. Tapi topinya ada di dalam lemari kamar... kalau aku pulang
lagi, aku bisa terlambat masuk kelas."
"ΝΟΝΟ!"
Sebuah suara
terdengar dari kejauhan. Nono menoleh dan melihat guru kelasnya, Bu Menik,
sedang melambaikan tangan dari dalam mobil.
"Nono, ayo
masuk ke mobilku saja! Masih ada tempat di belakang," teriak Bu Menik
dengan wajah ramah.
Nono pun tersenyum
lega. la segera menuntun sepedanya ke pinggir jalan, lalu mengangkatnya ke
bagasi mobil. "Wah, terima kasih banyak, Bu."
Bu Menik tertawa
kecil. "Makanya, besok pakai topi, Non. Atau paling tidak minta antar
salah satu anggota keluarga mu. Biar aman kalau lewat jalan penuh pepohonan
saat musim buah begini."
"Hehe, iya,
betul juga." jawab Nono sambil tersenyum.
"Aku jadi belajar
sesuatu hari ini." gumam Nono dalam hati.
Mobil pun terus
melaju dengan tenang. Tak lama kemudian, mereka sampai di gerbang sekolah. Nono
turun bersama Bu Menik, membawa sepedanya dengan perasaan lega. Nono tidak
terlambat masuk kelas. Bahkan, masih ada waktu beberapa menit untuk sebelum bel
berbunyi.
Apabila ingin
berbagi informasi atau menjalin kolaborasi, silakan menghubungi kami melalui
akun Instagram @pegazuspgsd.
Penulis: Elis