Mahasiswa Aktif = Banyak Bertanya? Benarkah Selalu Begitu?
Di banyak ruang kuliah, kita sering
melihat momen ketika dosen bertanya “Ada yang ingin ditanyakan?” lalu hanya
satu atau dua tangan yang terangkat. Mahasiswa yang bertanya biasanya langsung
dianggap lebih aktif, lebih kritis, dan lebih siap secara akademik. Sementara
mahasiswa yang hanya mendengarkan, mencatat, atau sekadar menyimak sering
dipersepsikan kurang terlibat. Pandangan ini sudah cukup lama hidup dalam dunia
pendidikan tinggi. Namun, apakah benar keaktifan hanya dinilai dari seberapa
sering seseorang berbicara?
Kebiasaan mengukur keaktifan dari
frekuensi bertanya lahir dari budaya akademik yang menempatkan diskusi sebagai
ciri dari pembelajaran yang hidup. Di beberapa mata kuliah, partisipasi verbal
bahkan menjadi bagian dari penilaian akhir. Cara pandang ini terpengaruh oleh
tradisi pendidikan yang terbiasa berpikir kritis secara terbuka. Namun di sisi
lain, banyak mahasiswa di Indonesia tumbuh dalam budaya yang cenderung
berhati-hati ketika berbicara di depan umum. Tidak semua orang merasa nyaman
menyampaikan pertanyaan di hadapan puluhan atau bahkan ratusan teman sekelas.
Jika kita melihat lebih dekat,
alasan mahasiswa bertanya bisa sangat beragam. Ada mahasiswa yang bertanya
karena benar-benar memahami materi dan ingin melihatnya dari sudut pandang yang
lebih luas. Biasanya pertanyaan seperti ini memancing diskusi yang menarik. Ada
juga mahasiswa yang mengajukan pertanyaan karena masih bingung dan membutuhkan
penjelasan lebih sederhana. Pertanyaan semacam ini bukan tanda kelemahan,
tetapi bagian dari proses memahami.
Di sisi lain, ada mahasiswa yang
bertanya karena ingin terlihat terlibat atau karena ada kewajiban penilaian
partisipasi. Bahkan dalam beberapa kasus, pertanyaan muncul karena gugup atau
panik ketika dosen tiba-tiba menunjuk nama acak. Jadi tidak semua pertanyaan
mencerminkan tingkat pemahaman yang sama.
Bagaimana dengan mahasiswa yang
tidak bertanya sama sekali? Diam tidak selalu berarti tidak tahu atau tidak
peduli. Banyak mahasiswa sebenarnya memahami materi tetapi memilih menyimpan
pertanyaannya untuk didiskusikan secara pribadi setelah kelas selesai. Ada juga
mahasiswa dengan gaya belajar reflektif yang membutuhkan waktu untuk mencerna
informasi sebelum merasa siap untuk bertanya. Perbedaan kepribadian, pengalaman
belajar sebelumnya, dan rasa percaya diri sangat memengaruhi keberanian
seseorang untuk berbicara di kelas.
Karena itu, jumlah pertanyaan
bukanlah ukuran terbaik untuk menentukan siapa yang benar-benar belajar. Kualitas
pertanyaan jauh lebih penting dibandingkan banyaknya. Satu pertanyaan yang
tajam dan relevan dapat membuka pembahasan yang lebih luas dan membantu banyak
orang memahami materi dengan cara yang berbeda.
Di titik ini, peran dosen tidak
hanya menyampaikan materi tetapi juga menciptakan suasana yang ramah bagi
pertanyaan. Ketika dosen memberikan jeda sebelum sesi tanya jawab, merespons
pertanyaan dengan penuh apresiasi, atau membuka kesempatan bertanya melalui
catatan anonim, mahasiswa biasanya merasa lebih aman untuk berpartisipasi. Rasa
nyaman inilah yang seringkali menentukan apakah mahasiswa berani bertanya atau
memilih diam.
Pada akhirnya, bertanya hanyalah
salah satu bentuk partisipasi. Ada banyak cara mahasiswa menunjukkan bahwa
mereka belajar, mulai dari mendengarkan dengan penuh perhatian, berdiskusi
dalam kelompok kecil, menuliskan refleksi, hingga menerapkan materi dalam tugas
atau praktik. Perkuliahan yang baik bukan hanya memberi ruang bagi suara yang
terdengar, tetapi juga menghargai cara belajar setiap mahasiswa.
Jadi apakah mahasiswa aktif selalu
yang banyak bertanya? Tidak selalu. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana
seseorang memahami dan mengolah pengetahuan yang diterimanya. Karena belajar
bukan sekadar berbicara, tetapi juga tentang tumbuh, memahami, dan memaknai.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho