Memberi Hadiah pada Diri Sendiri sebagai Bentuk Cinta Paling Sederhana
Di tengah budaya yang mengagungkan produktivitas, memberi hadiah pada diri sendiri kerap dianggap sebagai kemewahan yang tidak perlu. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa penghargaan hanya pantas diberikan setelah pencapaian besar. Padahal, hidup tidak selalu bergerak dalam ritme kemenangan yang megah. Ada hari-hari sunyi yang hanya diisi oleh usaha kecil, tetapi konsisten. Di situlah self-reward menemukan maknanya.
Self-reward bukan tentang belanja berlebihan atau memanjakan diri tanpa kendali. Ia adalah bentuk pengakuan yang jujur atas usaha yang telah dilakukan. Mengakui bahwa bertahan saja di hari yang berat sudah merupakan pencapaian. Bagi sebagian orang, self-reward bisa berupa secangkir kopi hangat setelah hari yang melelahkan. Bagi yang lain, mungkin hanya waktu tidur lebih awal tanpa rasa bersalah.
Masalahnya, banyak orang merasa tidak layak mendapatkan penghargaan. Ada suara kecil di kepala yang berkata bahwa usaha mereka belum cukup, pencapaian mereka belum sebanding dengan orang lain. Perbandingan sosial yang terus-menerus membuat self-reward terasa egois. Padahal, menghargai diri sendiri justru membantu menjaga kesehatan mental dan motivasi jangka panjang.
Self-reward yang sehat membantu seseorang mengenali batasnya. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa jeda. Dengan memberi ruang untuk bernapas, seseorang dapat kembali melangkah dengan energi yang lebih utuh. Tanpa jeda, kelelahan perlahan berubah menjadi kejenuhan yang berbahaya.
Belajar memberi hadiah pada diri sendiri adalah proses berdamai dengan rasa cukup. Tidak semua penghargaan harus terlihat besar di mata orang lain. Yang terpenting, ia bermakna bagi diri sendiri. Dalam dunia yang sering menuntut lebih, self-reward menjadi pengingat lembut bahwa usaha kita layak dihargai, sekecil apa pun itu.
Penulis: Dessinta Nabila Sukardanu