Membongkar Mitos Multitasking: Mengapa Fokus Pada Satu Tugas Justru Lebih Cepat Selesai
Di era digital, kita sering menganggap multitasking sebagai simbol efisiensi dan kecakapan. Mahasiswa bangga bisa mendengarkan podcast sambil membuat slide, membalas chat di tengah-tengah membaca jurnal, atau belajar sambil menonton film. Namun, sains modern telah membongkar mitos multitasking ini. Otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk mengerjakan beberapa tugas kognitif sekaligus; yang kita lakukan sebenarnya adalah task-switching yang sangat cepat. Proses task-switching inilah yang justru menjadi biang keladi penurunan produktivitas, peningkatan stres, dan memakan lebih banyak waktu daripada yang kita kira.
Ketika Anda beralih dari satu tugas ke tugas lain (misalnya, dari menulis esai ke membalas email), otak akan dikenai switching cost. Switching Cost adalah waktu dan energi yang dibutuhkan otak untuk memfokuskan kembali perhatian, mengingat kembali konteks, dan menghidupkan kembali jaringan neuron yang relevan. Switching cost ini, meskipun hanya sepersekian detik, terakumulasi dan secara total dapat menghabiskan hingga 40% waktu produktif Anda. Selain itu, kualitas tugas yang dikerjakan saat multitasking cenderung lebih rendah, karena perhatian Anda terbagi dan detail-detail penting sering terlewatkan.
Mengapa fokus pada satu tugas justru lebih cepat selesai? Jawabannya terletak pada konsep Deep Work. Ketika Anda mendedikasikan seluruh sumber daya kognitif Anda pada satu tugas menantang, otak Anda dapat memasuki kondisi flow kondisi konsentrasi penuh di mana pekerjaan terasa mengalir tanpa hambatan. Dalam kondisi flow, Anda dapat menyelesaikan tugas yang seharusnya memakan waktu berjam-jam hanya dalam sesi yang intensif. Single-tasking memaksimalkan efisiensi otak dan memastikan bahwa energi mental Anda tidak terbuang percuma untuk beralih konteks.
Untuk mulai meninggalkan kebiasaan multitasking, mahasiswa dapat menerapkan beberapa tips praktis. Pertama, jadwalkan waktu deep work; tentukan blok waktu spesifik (misalnya 90 menit) di mana Anda hanya mengerjakan satu tugas utama. Kedua, singkirkan pemicu distraksi; mematikan semua notifikasi, tutup tab browser yang tidak relevan, dan jauhkan ponsel. Ketiga, kelompokkan Shallow Work (tugas ringan seperti membalas chat atau email) ke dalam satu waktu tertentu di luar sesi deep work. Jangan biarkan tugas shallow mengganggu pekerjaan inti Anda.
Pada akhirnya, membongkar mitos multitasking adalah langkah awal untuk menjadi lebih cerdas, bukan lebih keras, dalam bekerja. Single-tasking adalah investasi pada kualitas output, kecepatan penyelesaian, dan kesehatan mental Anda. Dengan memilih untuk fokus, Anda tidak hanya akan lebih cepat selesai, tetapi juga akan mendapatkan rasa kepuasan dan penguasaan yang jauh lebih besar atas materi atau proyek yang Anda kerjakan.
Penulis : Mufrida Nur Azizah