Mengajar di Ujung Desa 3T: Pengabdian di Desa Gumitir untuk Pendidikan SD
Desa Gumitir, salah satu wilayah 3T di Kabupaten Jember,
menjadi tempat yang membuka mata saya tentang arti kesederhanaan, perjuangan,
dan syukur. Selama tiga hari menjalankan pengabdian masyarakat sekaligus
tinggal bersama warga, saya merasakan langsung bagaimana kehidupan di desa
terpencil ini jauh berbeda dari kehidupan modern yang serba mudah diakses.
Akses menuju desa sangat sulit dilalui. Tidak ada jalan beraspal, hanya tanah berbatu
yang terjal dan licin. Anak-anak SD di sana harus berjalan kaki sekitar tiga
puluh menit dari rumah menuju sekolah. Meski jaraknya jauh dan rutenya cukup
ekstrem, mereka tidak pernah mengeluh. Justru semangat mereka untuk belajar
sangat besar jauh lebih besar daripada fasilitas yang tersedia.
Salah satu hal yang paling mengejutkan sekaligus menyadarkan
saya adalah akses internet yang hampir tidak ada. Untuk mendapatkan sinyal,
warga harus naik ke titik-titik tertentu di bukit. Hal ini membuat masyarakat
dan anak-anak hidup dengan ritme yang benar-benar alami, tanpa distraksi
digital. Alih-alih sibuk dengan gawai, anak-anak lebih sering bermain bersama,
membantu orang tua, dan tetap bersemangat ketika ada kegiatan belajar dari
kami.
Kondisi sanitasi juga menjadi tantangan tersendiri. Kamar
mandi hanya ada satu di satu wilayah pemukiman desa, digunakan secara
bergantian oleh banyak keluarga. Mandi di sungai juga masih menjadi hal biasa
karena akses air bersih terbatas. Meskipun begitu, warga menjalani semuanya
dengan ikhlas dan penuh gotong royong hal yang jarang ditemui di kota.
Pemukiman warga sangat sederhana, penuh dengan suasana
pedesaan yang tenang dan natural. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan bambu,
berdiri berdekatan satu sama lain seperti sebuah komunitas kecil yang hangat.
Kehidupan mereka mungkin jauh dari kata mewah, tetapi justru di situlah letak
kekuatan mereka dengan kebersamaan, kesederhanaan, dan syukur.
Lalu kondisi sekolah. Dari luar, bangunannya terlihat
seperti sekolah yang layak, tetapi ketika masuk ke dalam, banyak fasilitas yang
sudah tidak memadai. Meja dan kursi sebagian rusak, papan tulis mulai
mengelupas, dan alat peraga sangat minim. Namun kekurangan itu tidak membuat
semangat belajar anak-anak meredup. Mereka tetap antusias, tertawa, bertanya,
dan menikmati setiap kegiatan yang kami berikan. Ada rasa haru melihat
bagaimana pendidikan menjadi harapan besar bagi mereka.
Tiga hari di Desa Gumitir bukan hanya sekadar program
pengabdian. Ini adalah pengalaman yang menyentuh hati dan mengajarkan banyak
hal mulai dari menghargai hal-hal kecil, mensyukuri fasilitas yang
selama ini kita anggap biasa, serta memahami bahwa pendidikan di daerah
terpencil masih membutuhkan perhatian besar. Anak-anak di Desa Gumitir mungkin
tinggal di wilayah 3T, tetapi semangat mereka untuk belajar membuat mereka
sangat "maju" dalam hal tekad dan harapan. Mereka membuktikan bahwa
keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi, tetapi justru menjadi alasan
untuk terus melangkah maju.
Di akhir pengabdian, saat kami harus kembali pulang, ada
rasa berat yang tidak bisa dijelaskan. Senyum anak-anak Desa Gumitir, tawa
mereka yang polos, dan semangat mereka untuk terus belajar seolah menahan
langkah kami. Mereka mengajari kami arti ketulusan tanpa pernah mereka sadari.
Tiga hari bersama mereka membuat kami paham bahwa kebahagiaan tidak selalu
muncul dari kelimpahan, tetapi dari hati yang selalu bersyukur meski serba
terbatas. Kami pergi dengan membawa pelajaran besar: bahwa setiap langkah kecil
yang diberikan untuk pendidikan di tempat terpencil seperti Gumitir bisa
menjadi cahaya harapan bagi masa depan mereka.
Penulis : Yemma Nardila