Mengapa Gen Z Terobsesi pada Self-Care?
Istilah self-care atau praktik merawat diri sendiri telah berevolusi dari sekadar tren menjadi sebuah filosofi hidup, terutama di kalangan Generasi Z (mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an). Obsesi ini melampaui masker wajah atau mandi busa; bagi Gen Z, self-care adalah pertahanan vital melawan realitas dunia modern yang sangat menuntut. Mereka adalah generasi yang tumbuh di tengah krisis iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan yang paling penting, tekanan tanpa henti dari dunia serba digital.
Salah satu alasan utama dibalik obsesi ini adalah beban mental dan tekanan digital yang unik. Gen Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya menjalani masa formatif mereka dengan media sosial. Paparan konstan terhadap highlight reel kehidupan orang lain memicu perbandingan sosial ekstrem dan kecemasan fear of missing out (FOMO). Selain itu, mereka dihadapkan pada riuhnya kehidupan online yang tidak mengenal batas waktu, membuat digital burnout menjadi hal lumrah. Self-care hadir sebagai solusi radikal sebuah mekanisme coping yang disengaja untuk menarik diri sejenak, mematikan notifikasi, dan memprioritaskan ketenangan mental di atas validasi digital.
Obsesi self-care juga mencerminkan pergeseran nilai dari generasi sebelumnya. Tidak seperti Baby Boomers yang mungkin menganggap kerja keras berlebihan (hustle culture) sebagai kehormatan, Gen Z cenderung menolak budaya tersebut. Mereka secara sadar menempatkan kesehatan mental di posisi yang sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, dari kesuksesan finansial. Mereka memahami bahwa produktivitas yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika didukung oleh kondisi mental dan emosional yang kokoh. Istirahat dianggap sebagai komponen penting dari keberhasilan, bukan sebagai kemewahan atau tanda kemalasan.
Selain itu, self-care bagi Gen Z adalah bentuk pemberdayaan diri dan advokasi. Generasi ini dikenal vokal dalam isu-isu sosial, termasuk kesehatan mental. Melalui self-care, mereka menormalisasi pembicaraan tentang kecemasan, terapi, dan batasan pribadi (boundaries). Berbagi tips self-care di platform mereka menjadi semacam aktivisme mikro, membangun komunitas suportif yang saling mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja (it's okay not to be okay). Hal ini mengubah self-care dari tindakan individu menjadi gerakan kolektif.
Singkatnya, obsesi Gen Z terhadap self-care bukanlah tren dangkal, melainkan respons yang rasional dan cerdas terhadap lingkungan yang sarat tekanan. Ini adalah cara generasi muda mendefinisikan ulang makna "sukses" menjadi sesuatu yang holistik, yang mencakup kesejahteraan mental, emosional, dan fisik, di samping pencapaian karir. Dengan memprioritaskan diri mereka sendiri, Gen Z tidak hanya merawat diri, tetapi juga memimpin perubahan budaya menuju gaya hidup yang lebih seimbang dan manusiawi.
Penulis : Mufrida Nur Azizah