Mengapa Kesehatan Mental, Siswa Tidak Bisa Diabaikan?
Di balik seragam rapi dan senyum yang terlihat di pagi hari, tidak semua siswa datang ke sekolah dengan perasaan yang baik-baik saja. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta masalah keluarga sering kali membebani pikiran mereka. Sayangnya, kesehatan mental masih kerap dianggap sebagai isu sampingan dalam dunia pendidikan.
Sekolah selama ini lebih fokus pada capaian akademik. Nilai tinggi dipuja, sementara kelelahan emosional sering kali diabaikan. Padahal, proses belajar tidak akan berjalan optimal jika siswa berada dalam kondisi mental yang tidak sehat. Pikiran yang cemas dan tertekan sulit untuk menerima dan mengolah informasi dengan baik.
Kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan. Ia merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Siswa yang merasa aman, dihargai, dan didukung secara emosional cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih baik. Sebaliknya, lingkungan sekolah yang penuh tekanan justru dapat memicu stres dan kecemasan berlebihan.
Peran guru dan sekolah sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah mental. Guru yang peka terhadap perubahan perilaku siswa dapat menjadi pintu pertama untuk memberikan bantuan. Sekolah juga perlu menyediakan ruang konseling yang mudah diakses dan tidak menstigmatisasi.
Pendidikan yang peduli pada kesehatan mental akan mengajarkan siswa untuk mengenali dan mengelola emosinya. Mereka belajar bahwa meminta bantuan bukanlah aib, melainkan langkah berani untuk menjaga diri. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga individu yang sehat secara mental dan emosional.
Penulis: Dessinta Nabila Sukardanu