Mengapa Kita Cepat Bosan dan Sulit Konsisten?
Banyak orang pernah merasa semangat di awal saat mencoba hal baru. Rasanya begitu menyenangkan ketika merencanakan target, menulis to-do list rapi, atau membeli perlengkapan baru demi memulai perjalanan. Namun setelah beberapa hari atau minggu, semangat itu pelan-pelan menurun. Pada akhirnya kegiatan yang tadinya terasa menyenangkan berubah menjadi beban. Lalu muncul kalimat yang sering terdengar, "Kayaknya ini bukan buat aku" atau "Besok aja mulai lagi."
Fenomena cepat bosan dan sulit konsisten ini bukan sesuatu yang jarang terjadi. Banyak mahasiswa, pelajar, bahkan orang dewasa merasakannya. Pertanyaannya bukan lagi "kenapa orang lain bisa konsisten" tetapi lebih pada "mengapa begitu sulit bagi kita untuk bertahan?"
Ada beberapa alasan yang membuat manusia mudah bosan. Salah satunya adalah karena otak menyukai hal baru. Seru, menantang, dan membuat kita merasa hidup. Tantangannya muncul ketika sesuatu yang awalnya terasa menyenangkan berubah menjadi rutinitas. Pada titik ini tidak ada lagi kejutan. Tidak ada lagi rasa bangga hanya karena berhasil memulai. Yang tersisa adalah kerja keras, kedisiplinan, dan pengulangan. Di momen inilah banyak orang berhenti, bukan karena tidak mampu, tetapi karena kehilangan sensasi menyenangkan di awal.
Selain itu, perkembangan teknologi ikut menyumbang kebiasaan cepat bosan. Media sosial menyajikan hiburan instan dalam hitungan detik. Kita terbiasa dengan perubahan cepat, notifikasi yang terus muncul, serta aliran konten yang tidak pernah berhenti. Akibatnya fokus menjadi mudah terganggu dan otak terbiasa mencari hal-hal yang memuaskan dengan cepat. Ketika belajar, bekerja, atau berlatih sesuatu yang membutuhkan waktu dan proses panjang, otak mulai terasa lelah. Konsentrasi menurun dan rasa tidak sabar mulai muncul.
Ada hal lain yang juga sering tidak disadari. Banyak orang ingin hasil cepat tanpa melewati proses. Terkadang kita lupa bahwa keterampilan, kebiasaan, dan perubahan diri membutuhkan waktu. Tidak semua hal menunjukkan perkembangan dalam satu atau dua minggu. Karena tidak melihat hasil instan, muncul rasa ragu terhadap kemampuan diri. Ujungnya muncul pikiran bahwa usaha yang dilakukan tidak ada gunanya.
Namun bukan berarti kebiasaan cepat bosan dan sulit konsisten tidak bisa diubah. Perubahan dimulai dari memahami bahwa motivasi bukan satu-satunya bahan bakar untuk bertahan. Konsistensi dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang, bahkan di hari ketika tidak ada semangat sama sekali. Tidak harus besar, tidak harus sempurna. Yang penting terus berjalan.
Mulai dari hal sederhana bisa menjadi titik awal. Seperti belajar hanya lima belas menit setiap hari, olahraga ringan tanpa target berlebihan, atau mencatat progres kecil meski belum terlihat signifikan. Kebiasaan kecil ini perlahan mengubah cara berpikir dan membuat proses terasa lebih ringan.
Tidak ada orang yang selalu disiplin setiap hari. Tidak ada yang selalu termotivasi. Namun orang yang berhasil bukanlah yang selalu semangat, melainkan yang tetap bergerak meski sedang tidak termotivasi. Jika kamu merasa mudah bosan dan sulit konsisten, kamu tidak sendirian. Itu manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana kamu bangkit setiap kali berhenti. Setiap kali mengulang dari awal, kamu tetap melangkah maju. Kamu sedang belajar menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab. Tidak perlu berlari. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Yang kamu butuhkan hanyalah bertahan sedikit lebih lama. Karena kadang keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling mampu bertahan.
Penulis: Hafizh Muhammad Ridho