MENGENAL PERBEDAAN ANAK SLOW LEARNER DENGAN TUNAGRAHITA
pgsd.fip.unesa.ac.id – Banyak orang sering menganggap anak slow learner dan tuna grahita ialah hal yang sama. Padalah keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam penyebab, ciri-ciri, dan cara penanganannya. Memahami perbedaan ini sangat penting agar setiap anak bisa mendapatkan dukungan, pendidikan, dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan.
Slow Learner
Merujuk pada anak yang memiliki kecapatan belajar lebih lambar dibandingkan teman seusianya, namun masih berada dalam rentang kecerdasan normal dengan IQ antara 70 – 85. Anak ini tidak memiliki kelainan fisik atau gangguan perkembangan otak. Tapi masalahnya terletak pada kemampuan menyerap informasi dan memahami materi Pelajaran dengan kecepatan standar.
Ciri-ciri:
· Memerlukan penjelasan berulang dan metode pembelajaran yang lebih konkrit serta konstektual.
· Sulit mengingat informasi baru dalam waktu singkat, tetapi mampu menguasainya jika diberikan waktu cukup.
· Mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, berkomunikasi dengan baik.
· Dapat mencapai tingkat perkembangan yang sesuai dengan usianya jika diberikan dukungan dan bimbingan yang tepat.
Tunagrahita
Kondisi gangguan kecerdasan yang terjadi akibat kelainan pada perkembangan otak, dengan IQ di bawah 70. Kondisi ini biasanya muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelainan genetik, infeksi selama kehamilan, kurangnya nutrisi pada tahap awal perkembangan atau komplikasi saat persalinan.
Ciri-ciri:
· Memiliki kesulitan berpikir abstrak, berkomunikasi, dan mengembangkan keterampilan hidup sehari-hari.
· Perkembangan fisik, emosional, dan sosial cenderung tertinggal signifikan dibandingkan anak seusianya.
· Memerlukan bantuan dalam aktivitas dasar, tergantung pada tingkat keparahan kondisi.
· Tingkat keparahannya bisa bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.
Kesimpulannya, anak slow learner dengan tunagrahita ialah dua kondisi yang berbeda secara esensial. Tidak bisa dianggap sama karena perbedaan pada tingkat kecerdasan, penyebab, dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Dengan memahami perbedaan ini, orang tua, guru, dan masyarakat bisa memberikan dukungan yang tepat agar setiap anak bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Penulis: Salsabila Qothrunnada