Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)
Model
pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) muncul dari kesadaran
bahwa setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda satu sama lain.
Tidak ada satu model pembelajaran pun yang benar-benar cocok untuk semua siswa,
sebab kemampuan dasar, kecepatan memahami informasi, serta kecenderungan
belajar mereka selalu bervariasi. Berdasarkan pemikiran itu, model ATI didesain
untuk memberikan perlakuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan
siswa. Prinsipnya sederhana siswa yang berbeda harus mendapatkan pendekatan
pembelajaran yang berbeda pula agar hasil belajar mereka bisa optimal. Konsep
inilah yang menjadi inti penelitian mengenai penerapan ATI dalam pembelajaran
biologi pada siswa SMA yang dikaji dalam jurnal tersebut.
Dalam
penerapannya, pembelajaran ATI dimulai dengan pemberian tes awal kepada seluruh
siswa. Tes ini bertujuan mengetahui sejauh mana kemampuan dasar mereka sebelum
pembelajaran berlangsung. Hasil tes kemudian digunakan untuk mengelompokkan
siswa ke dalam tiga kategori kemampuan: tinggi, sedang, dan rendah.
Pengelompokan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan siapa yang lebih
unggul, tetapi untuk memastikan setiap siswa mendapatkan perlakuan sesuai
kebutuhannya. Siswa berkemampuan tinggi mungkin memerlukan tantangan tambahan,
sementara siswa berkemampuan rendah membutuhkan bimbingan yang lebih intensif.
Dengan kata lain, ATI bertujuan menghindari perlakuan yang seragam, karena
keseragaman justru sering kali membuat pembelajaran tidak efektif bagi sebagian
siswa.
Setelah
pengelompokan dilakukan, barulah guru memberikan perlakuan pembelajaran yang
berbeda untuk masing-masing kategori. Pada proses inilah ATI menjadi menarik,
sebab guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memodifikasi caranya
sesuai dengan karakteristik kelompok siswa. Dalam penelitian yang diuraikan
dalam jurnal tersebut, beberapa perlakuan yang diberikan meliputi penjelasan tambahan
untuk kelompok rendah, penguatan materi untuk kelompok sedang, dan pendalaman
konsep untuk kelompok tinggi. Dengan demikian, setiap siswa belajar dengan
ritme yang lebih sesuai dengan dirinya. Model ini membantu mengurangi rasa
tertinggal pada siswa yang lambat, sekaligus mencegah kebosanan bagi siswa yang
cepat memahami materi.
Penelitian
tersebut dilakukan pada siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Alla. Peneliti
membandingkan dua kelas: kelas eksperimen yang belajar menggunakan model ATI
dipadukan dengan media Microsoft PowerPoint, dan kelas kontrol yang menggunakan
ATI tanpa PowerPoint. Selama enam kali pertemuan, seluruh siswa mengikuti
rangkaian pembelajaran yang terdiri atas tes awal, pretest, proses
pembelajaran, dan tes akhir. Evaluasi hasil belajar dilakukan melalui tes
pilihan ganda sebanyak tiga puluh soal. Data nilai siswa kemudian dianalisis
menggunakan statistik deskriptif dan inferensial untuk melihat apakah terdapat
perbedaan hasil belajar antara kedua kelas.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar menggunakan model ATI dengan
bantuan PowerPoint memperoleh nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka
yang belajar tanpa media tersebut. Rata-rata nilai kelas eksperimen mencapai
80,46, sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 71,21. Selain itu, uji-t
menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai terhitung sebesar 5,86, jauh
melebihi tabel pada taraf signifikansi 0,05. Hal ini membuktikan bahwa
penggunaan media PowerPoint dalam pembelajaran ATI memberikan peningkatan nyata
terhadap pemahaman siswa tentang materi biologi.
Temuan
tersebut dapat dijelaskan dari beberapa sisi. Pertama, ATI berhasil
mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa. Dengan memberi perlakuan yang berbeda,
siswa tidak dipaksa mengikuti satu pola pembelajaran yang sama. Siswa
berkemampuan rendah tidak lagi merasa tertinggal, sementara siswa berkemampuan
tinggi tetap mendapatkan ruang untuk berkembang. Kedua, penggunaan PowerPoint
memberikan dukungan visual yang memperjelas konsep-konsep biologi yang bersifat
abstrak. Gambar, diagram, warna, dan poin-poin ringkas dalam slide membantu
siswa memahami dan mengingat materi dengan lebih mudah. Media visual juga
membuat suasana belajar lebih menarik, sehingga perhatian siswa lebih terfokus.
Selain
faktor kemampuan dan media, keberhasilan ATI juga dipengaruhi oleh faktor
psikologis siswa, motivasi, daya nalar, serta dukungan lingkungan belajar.
Pembelajaran yang dirancang dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut
memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan relevan bagi siswa.
Ketika siswa merasa perlakuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan mereka, rasa
percaya diri meningkat dan motivasi belajar ikut terdorong. Inilah yang
kemudian berkontribusi pada meningkatnya hasil belajar. Melalui penelitian
tersebut, terlihat jelas bahwa ATI bukan hanya model teoretis, tetapi
benar-benar dapat diimplementasikan secara efektif di kelas. ATI membantu guru
menyadari bahwa strategi pembelajaran tidak bisa lagi bersifat universal.
Dengan memperhatikan perbedaan kemampuan, memberikan perlakuan yang sesuai,
serta menggunakan media yang menarik seperti PowerPoint, pembelajaran menjadi
lebih manusiawi dan lebih mudah diterima oleh siswa. Guru tidak lagi hanya
menyampaikan materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang memahami karakter
belajar setiap kelompok siswa.
Akhirnya,
model pembelajaran ATI menawarkan pelajaran penting bagi dunia pendidikan:
bahwa keberagaman kemampuan siswa bukan hambatan, tetapi justru peluang untuk
menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, adaptif, dan bermakna. Dengan
memadukan strategi pembelajaran berbasis kemampuan dengan teknologi pendukung,
hasil belajar siswa dapat ditingkatkan secara signifikan. Kesimpulan dari
penelitian tersebut menegaskan bahwa model ATI layak dipertimbangkan sebagai salah
satu pendekatan efektif dalam pembelajaran, terutama untuk mata pelajaran yang
menuntut pemahaman konsep-konsep kompleks seperti biologi.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri
Sumber: Andarias, S. H. (2016)