PERAN SOLIDARITAS DAN KEPERCAYAAN DALAM MEMBANGUN TIM YANG SEHAT
Membangun sebuah tim tidak bisa dilakukan secara asal atau instan. Ibarat membangun bangunan, diperlukan bahan yang kuat agar pondasinya tidak mudah runtuh. Solidaritas dan kepercayaan menjadi dua elemen utama yang menentukan apakah sebuah tim bisa berjalan dengan sehat atau tidak. Tanpa adanya rasa saling percaya, kerja sama akan terasa berat dan penuh kecurigaan. Setiap anggota akan cenderung bekerja sendiri-sendiri. Akibatnya, tujuan bersama sulit tercapai meskipun orang-orang di dalamnya punya kemampuan yang baik. Solidaritas membuat anggota tim merasa berada dalam satu tujuan yang sama. Dari situlah kerja sama mulai terbentuk secara alami.
Solidaritas bukan hanya tentang kompak saat keadaan sedang baik. Justru solidaritas diuji ketika tim berada dalam tekanan atau konflik. Dalam situasi seperti itu, sikap saling memahami dan mendukung menjadi sangat penting. Tanpa solidaritas, masalah kecil bisa berubah menjadi konflik besar. Anggota tim bisa saling menyalahkan tanpa mencoba mencari solusi bersama. Padahal, setiap tim pasti pernah mengalami perbedaan pendapat. Solidaritas membantu tim tetap utuh meskipun terdapat perbedaan. Dengan rasa kebersamaan, anggota tim akan lebih siap menghadapi tantangan.
Selain solidaritas, kepercayaan juga memegang peranan besar dalam membangun tim yang sehat. Kepercayaan membuat setiap anggota merasa aman untuk menjalankan perannya. Mereka tidak merasa diawasi secara berlebihan atau diragukan kemampuannya. Ketika kepercayaan terbangun, komunikasi dalam tim menjadi lebih terbuka. Anggota tim lebih berani menyampaikan ide dan pendapat tanpa takut dihakimi. Kepercayaan juga mengurangi rasa cemas akan kesalahan kecil. Dengan begitu, proses kerja bisa berjalan lebih efektif. Tim pun menjadi ruang belajar, bukan tempat saling menjatuhkan.
Tim yang sehat tidak menuntut semua anggotanya selalu sempurna. Justru, tim yang sehat memberi ruang untuk belajar dan bertumbuh bersama. Solidaritas membuat anggota tim saling menutupi kekurangan satu sama lain. Kepercayaan membuat kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses, bukan sebagai kegagalan mutlak. Dalam suasana seperti ini, setiap anggota merasa lebih dihargai. Mereka tidak hanya bekerja demi hasil, tetapi juga demi kebersamaan. Lingkungan tim pun terasa lebih nyaman dan mendukung. Hal ini berdampak langsung pada kualitas kerja secara keseluruhan.
Pada akhirnya, membangun tim yang sehat membutuhkan proses dan kesabaran. Solidaritas dan kepercayaan tidak muncul secara tiba-tiba. Keduanya tumbuh dari interaksi yang konsisten dan komunikasi yang jujur. Ketika anggota tim saling percaya, kerja sama terasa lebih ringan. Tujuan bersama pun lebih mudah dicapai tanpa tekanan berlebihan. Tim tidak hanya berfungsi sebagai wadah kerja, tetapi juga sebagai ruang bertumbuh. Dengan pondasi yang kuat, tim akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan. Di situlah tim yang sehat benar-benar terbentuk.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari