Perlukah PR di Era Sekolah Full Day?
Di tengah perubahan sistem
pendidikan dan semakin padatnya aktivitas belajar siswa sekolah dasar, pekerjaan
rumah kembali menjadi topik diskusi yang menarik. Banyak orang tua mulai
mempertanyakan relevansinya, terutama karena anak sudah menghabiskan sebagian
besar waktu di sekolah hingga sore hari. Namun kenyataannya, setelah pulang
mereka masih dihadapkan pada lembar tugas yang harus diselesaikan. Tidak
sedikit yang merasa kewalahan. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah
pekerjaan rumah masih diperlukan di era sekolah full day?
Saat pertama kali diperkenalkan di
dunia pendidikan, pekerjaan rumah memiliki tujuan yang cukup jelas. PR
dirancang sebagai bentuk latihan tambahan untuk membantu siswa mengulang
pelajaran di rumah, sekaligus menumbuhkan kebiasaan belajar mandiri. Selain
itu, pekerjaan rumah menjadi sarana agar orang tua dapat melihat perkembangan
belajar anak. Melalui tugas sederhana, orang tua bisa mengetahui materi yang
sedang dipelajari di sekolah.
Namun kondisi pendidikan saat ini
telah berbeda dengan situasi beberapa tahun lalu. Sistem sekolah fullday
membuat anak belajar lebih lama, tidak hanya dalam bentuk kegiatan akademik
tetapi juga aktivitas pengembangan diri dan karakter. Setelah menjalani
rutinitas panjang dengan jadwal yang padat, banyak anak pulang dalam kondisi
benar benar lelah. Pada titik ini, pekerjaan rumah tidak lagi terasa sebagai
latihan ringan, tetapi berubah menjadi beban tambahan.
Dampaknya cukup terasa di rumah.
Banyak orang tua menganggap waktu malam seharusnya digunakan untuk
beristirahat, bermain, atau membangun komunikasi dengan keluarga. Namun yang
terjadi justru sebaliknya. PR sering menjadi sumber perdebatan atau bahkan pertengkaran
kecil. Anak merasa tugasnya terlalu banyak, sementara orang tua merasa harus
memastikan anak menyelesaikannya agar tidak mendapat teguran dari sekolah.
Tidak jarang pula orang tua atau tutor yang justru mengerjakan tugas tersebut
demi mengejar penyelesaian.
Pertanyaannya, apakah pekerjaan
rumah benar benar tidak diperlukan? Jawabannya tidak mutlak. PR masih memiliki
manfaat ketika diberikan secara terukur dan sesuai kebutuhan. Tugas yang
membantu anak melakukan refleksi terhadap pembelajaran, bukan sekadar mengulang
soal, tetap memiliki peran penting dalam mendukung pemahaman konsep.
Agar tetap relevan dengan sistem
sekolah fullday, bentuk PR idealnya dibuat lebih manusiawi dan realistis.
Pekerjaan rumah sebaiknya singkat, bermakna, serta dekat dengan pengalaman
anak. PR tidak harus selalu berupa deretan soal atau tulisan panjang. Aktivitas
observasi sederhana, membaca selama beberapa menit, menulis satu paragraf
refleksi, atau mencoba kegiatan kreatif di rumah dapat menjadi alternatif yang
lebih menyenangkan dan bermanfaat.
Beberapa sekolah juga mulai
menerapkan model tugas mingguan. Anak diberi satu tugas yang sifatnya
eksploratif dan dapat dikerjakan secara bertahap. Model ini dinilai lebih
fleksibel dan tidak mengganggu ritme istirahat siswa di hari sekolah.
Pada akhirnya, pekerjaan rumah
seharusnya tidak menjadi ritual wajib yang hanya mengisi slot dalam sistem
pendidikan. Yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas dan relevansinya. Dunia
belajar telah berubah, begitu pula karakter generasi yang tumbuh di dalamnya.
Maka pekerjaan rumah pun perlu beradaptasi dengan kebutuhan perkembangan anak
zaman sekarang.
Intinya bukan pada mempertahankan
atau menghapus PR sepenuhnya. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah
pekerjaan rumah yang diberikan saat ini benar benar mendukung pembelajaran dan
kesejahteraan siswa. Pendidikan idealnya membantu anak tumbuh dengan sehat,
bahagia, dan seimbang. Jika PR mampu menopang tujuan itu, maka kehadirannya
masih layak dipertahankan. Namun jika justru menambah tekanan dan menghilangkan
waktu istirahat serta bermain, mungkin sudah saatnya kita merancang ulang
konsep pekerjaan rumah yang lebih relevan untuk era sekolah full day.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho