Refleksi Diri: Selesai Berarti “Berdamai”
Ada
momen ketika seseorang perlu berhenti sejenak dan benar-benar berkaca, yang
bukan hanya melihat wajah di permukaan, tetapi menatap lebih jauh ke dalam
diri. Proses ini tidak selalu nyaman, karena sering kali kita justru menemukan
hal-hal yang mungkin selama ini sengajai kita hindari: luka yang belum pulih,
keputusan yang masih disesali, atau sisi diri yang belum sepenuhnya diterima.
Namun, di balik ketidaknyamanan itu, refleksi justru membuka ruang untuk
memahami siapa diri kita sebenarnya. Ia mengajarkan bahwa kedewasaan tidak
hanya tentang bergerak maju, tetapi juga berani mengakui bagian-bagian diri
yang masih berantakan.
Dari
proses refleksi itulah muncul kesadaran bahwa “selesai dengan diri sendiri”
bukan berarti semua masalah telah hilang atau semua luka telah sembuh. Justru,
selesai berarti berdamai: menerima bahwa kita pernah salah, pernah jatuh, dan
pernah merasa tidak cukup—namun tetap memilih untuk melanjutkan hidup tanpa
membenci diri sendiri. Itu adalah bentuk keberanian yang perlahan membuat
langkah terasa lebih ringan. Pada akhirnya, selesai dengan diri sendiri bukan
tentang menjadi sempurna, tetapi tentang memberi ruang bagi diri untuk tumbuh
tanpa terus membawa beban yang sama. Dan mungkin, kedamaian paling tulus memang
lahir ketika kita berhenti menuntut diri menjadi versi terbaik secara
tergesa-gesa, lalu mulai menjalani hidup dengan hati yang lebih lapang.
(red/muallimshir24_)