Transformasi Penilaian Global Menuju Asesmen Berkelanjutan Berbasis Kompetensi
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Upaya internasional untuk mengubah sistem penilaian pendidikan kini semakin mengarah pada asesmen berkelanjutan berbasis kompetensi. Perubahan ini muncul sebagai tanggapan atas kebutuhan dunia pendidikan yang menuntut penilaian lebih adil, holistik, dan relevan dengan kemampuan nyata peserta didik. Ujian satu kali dianggap tidak lagi mencerminkan keseluruhan potensi dan proses belajar individu. Pendekatan baru ini menilai keterampilan, pengetahuan, serta sikap secara terus-menerus selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan begitu, penilaian tidak lagi hanya berfokus pada hasil akhir, melainkan juga pada proses yang ditempuh siswa dalam memahami materi. Banyak negara mulai mengadopsi sistem ini karena dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar dan kepercayaan diri peserta didik. Selain itu, asesmen berkelanjutan memungkinkan guru memberikan umpan balik yang lebih bermakna bagi perkembangan siswa. Perubahan paradigma ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Asesmen berbasis kompetensi berorientasi pada penguasaan kemampuan nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini mengukur sejauh mana peserta didik memahami konsep dan mampu mempraktikkannya dalam konteks yang relevan. Penilaian tidak lagi terfokus pada hafalan, tetapi pada kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penyelesaian masalah. Dengan demikian, pendidikan diarahkan untuk membentuk individu yang adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi. Evaluasi dilakukan melalui proyek, portofolio, observasi, dan refleksi diri siswa. Setiap hasil belajar menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menilai kemajuan peserta didik. Pendekatan ini diyakini mampu mempersempit kesenjangan antara teori dan praktik dalam dunia pendidikan. Hasilnya, proses belajar menjadi lebih manusiawi dan berpusat pada peserta didik.
Perubahan menuju asesmen berkelanjutan juga membawa tantangan tersendiri bagi pendidik di berbagai negara. Guru dituntut memiliki kemampuan dalam merancang instrumen penilaian yang objektif, autentik, dan relevan. Diperlukan pelatihan khusus agar pendidik dapat menilai kemampuan siswa secara komprehensif tanpa mengabaikan keadilan. Adaptasi teknologi pendidikan turut menjadi faktor penting dalam mendukung penerapan asesmen berkelanjutan. Platform digital kini dimanfaatkan untuk merekam, menilai, dan melacak perkembangan peserta didik secara sistematis. Melalui sistem ini, guru dapat memberikan penilaian formatif dan sumatif secara berkelanjutan. Proses tersebut tidak hanya memperlihatkan hasil, tetapi juga perkembangan kompetensi dari waktu ke waktu. Inovasi ini menunjukkan bahwa penilaian yang efektif harus mampu menggambarkan pertumbuhan individu secara menyeluruh.
Dampak dari perubahan sistem penilaian ini juga terasa pada peserta didik yang kini lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Mereka didorong untuk memahami kekuatan dan kelemahan diri melalui refleksi yang berkelanjutan. Asesmen berbasis kompetensi membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri karena setiap keberhasilan kecil turut diakui. Sistem ini juga mendorong kolaborasi antarsiswa dalam pembelajaran berbasis proyek. Dengan demikian, nilai kerja sama, empati, dan komunikasi menjadi bagian integral dari evaluasi. Selain aspek akademik, penilaian ini memperhatikan aspek karakter yang menjadi fondasi penting dalam pendidikan abad ke-21. Pendekatan seperti ini membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Transformasi ini menjadi langkah besar dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif dan bermakna.
Secara global, inisiatif untuk menggantikan ujian satu kali dengan asesmen berkelanjutan menunjukkan arah baru dalam kebijakan pendidikan. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman dan perkembangan individu. Banyak pihak menilai bahwa masa depan pendidikan tidak bisa lagi diukur hanya dengan angka pada satu lembar kertas. Sebaliknya, kualitas belajar harus dilihat dari kemampuan peserta didik dalam berpikir, berkreasi, dan beradaptasi. Perubahan ini mencerminkan kesadaran bahwa penilaian adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari perjalanan pendidikan. Dengan penerapan yang konsisten, asesmen berbasis kompetensi dapat menjadi jembatan menuju generasi pembelajar sepanjang hayat. Keberhasilan transformasi ini akan bergantung pada sinergi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Harapannya, sistem penilaian yang lebih manusiawi ini dapat mendorong lahirnya individu yang siap menghadapi tantangan global dengan kompetensi yang utuh.
Penulis: Aghnia Hidayatul Maula
Gambar: Google