Stop Overthinking: 5 Jurus Ampuh Mengendalikan Pikiran yang Terlalu Ramai
Apakah Anda sering merasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung, memikirkan kesalahan masa lalu atau mengkhawatirkan skenario terburuk di masa depan? Fenomena ini yang dikenal sebagai overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan tanpa menghasilkan solusi nyata. Bagi mahasiswa, tekanan akademik, kecemasan masa depan karier, dan perbandingan di media sosial sering menjadi pemicu utamanya. Jika dibiarkan, dampak buruk overthinking sangat nyata; tidak hanya menyebabkan stres, kecemasan, dan insomnia, tetapi juga menguras energi, menghambat pengambilan keputusan, dan menurunkan produktivitas.
Jurus pertama merupakan langkah paling cepat untuk menghentikan putaran pikiran yaitu dengan teknik pengalihan perhatian (distraction). Ketika pikiran negatif mulai muncul, jangan berusaha melawannya, tetapi segera alihkan energi Anda ke aktivitas fisik. Berdirilah, berolahraga ringan, merapikan kamar, atau kerjakan tugas lain yang tidak memerlukan pemikiran mendalam. Setelah pikiran tenang, latih diri untuk fokus pada aksi, bukan masalah. Alih-alih meratapi tugas yang menumpuk, pecah tugas itu menjadi langkah-langkah kecil, lalu segera ambil langkah pertama. Aksi adalah penangkal terbaik bagi overthinking.
Setiap pikiran yang muncul di kepala bukanlah kebenaran absolut. Jurus kedua adalah menantang pikiran negatif tersebut. Ketika Anda mendapati diri mengkhawatirkan kegagalan, tanyakan secara rasional: "Apakah kekhawatiran ini berdasar fakta? Bukti apa yang mendukung pikiran ini?" Ganti pikiran pesimis dengan bingkai ulang (reframing) yang lebih positif, misalnya: "Meskipun ini sulit, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan hasil apa pun yang datang adalah proses pembelajaran." Melatih skill ini membantu otak memprioritaskan logika di atas emosi.
Dua pemicu besar overthinking di kalangan anak muda adalah media sosial dan standar kesempurnaan. Jurus ketiga adalah membatasi paparan media sosial, karena sering memicu perbandingan sosial yang membuat Anda merasa rendah diri. Tentukan batas waktu layar yang ketat. Selain itu, hancurkan mentalitas perfeksionis. Ingatlah prinsip done is better than perfect. Sering kali, overthinking terjadi karena kita terlalu takut melakukan kesalahan. Belajarlah untuk menerima hasil yang 'cukup baik' dan fokus pada penyelesaian daripada pencapaian yang tidak realistis.
Kualitas pikiran sangat bergantung pada kualitas istirahat. Jurus keempat adalah menjaga pola hidup sehat sebagai pertahanan diri utama. Pastikan Anda mendapatkan kualitas tidur yang cukup dengan menerapkan jadwal tidur yang teratur. Selalu sisihkan waktu untuk Self-Care dan Relaksasi. Meditasi, teknik pernapasan, atau sekadar menikmati waktu luang tanpa gawai adalah cara ampuh untuk menurunkan hormon stres (kortisol) yang sering dipicu oleh pikiran berlebihan. Tubuh dan pikiran yang segar adalah kunci ketenangan.
Jangan pernah merasa bahwa Anda harus menanggung beban pikiran sendirian. Jurus kelima adalah mencari dukungan sosial. Cari teman curhat atau mentor yang Anda percaya untuk berbagi perasaan dan kekhawatiran. Menceritakan masalah kepada orang lain sering kali membantu kita melihat situasi dari perspektif yang berbeda. Jika overthinking sudah memicu gejala fisik seperti insomnia atau kecemasan parah, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau konselor untuk mendapatkan strategi coping yang lebih terstruktur. Mengendalikan overthinking adalah perjalanan seumur hidup, bukan tujuan yang bisa dicapai dalam semalam. Dengan secara sadar menerapkan lima jurus ini, Anda sedang berinvestasi pada kesehatan mental dan produktivitas Anda. Ambil kendali penuh atas pikiran Anda, dan rasakan bagaimana fokus yang tenang akan memungkinkan Anda menikmati proses kuliah dan menghadapi tantangan hidup dengan kepala dingin.
Penulis : Mufrida Nur Azizah